Cinta Bisu Untuk Si Tampan Volume 2


Nisa segera mengembalikan beberapa buku yg dibacanya ke rak perpus. Kemudian, Nisa melangkah keluar berdasarkan perpus. Ternyata Arul sudah menantinya pada sana. Nisa segera melangkah menuju Arul. Kini, Nisa berada di hadapan Arul.
“Yuk!” istilah Arul kemudian berjalan. Nisa mengikuti pada belakang Arul menggunakan mimik wajah penasarannya.
Nisa harap-harap cemas sebenarnya. Ia masih takut menggunakan si Arul. Tetapi, jika Nisa perhatikan lagi, Arul telah nir seperti dulu lagi. Nisa pikir kini   Arul terlihat lebih dewasa & berwibawa. Sikap kasarnya pula sudah tidak terlihat sama sekali. Jadi, itulah yg menciptakan Nisa mau menerima ajakan Arul.

Di lantai 4 bangunan sekolah yg tidak terpakai, Nisa dan Arul berdiri seraya memandang ke bawah. Arul belum mau membuka mulutnya. Ia sekali waktu memandangi Nisa. Curi-curi pandang.
“Nama kamu Nisa, kan?” Arul mulai berbicara. Sementara itu, Nisa mengangguk pelan.
“Jadi, kenapa engkau  nggak mau ngomong? Apa engkau  masih murka  sama aku ?” tanya Arul. Dengan sigap Nisa menggelengkan kepalanya.
“Lagi-lagi cuma mengangguk & menggeleng. Padahal saya berharap kalau kita mampu berkomunikasi secara normal. Dengan begitu, aku  bisa mendengar cerita kamu. Dan pendapat kamu tentang saya,” kentara Arul berwajah datar. “Sebelumnya kamu pernah nggak ke lantai 4 ini? Aku seringkali ke sini jika saya sedang bosan. Memandang dari atas sini, aku  sanggup melihat poly hal,” lanjut Arul. Kini, pandangan Nisa dan Arul tertuju ke langit cerah berawan.
“Dulu, aku  pernah melihat kamu berdasarkan atas sini. Kamu tersenyum. Entah ketika itu kamu senang  karena apa. Tapi, saat itu saya senang  melihat senyum engkau . Sudah lama   sebenarnya aku  mau berkenalan sama kamu, terus ngajak engkau  ke loka ini,” tutur Arul.

Nisa sedikit terkejut mengetahui kebenaran itu dari Arul. Namun, apa yg harus dilakukan sang Nisa? Ia gundah. Ia sama sekali tidak dapat membalas perkataan Arul. Nisa ingin membuka lisan waktu itu. Ia bersiap-siap. Dihela napasnya pelan. Namun, Arul mendahului Nisa. “Nis! Makasi telah mau nemani aku . Kalau kita sanggup ngomong secara normal. Mungkin, saya akan banyak bercerita mengenai kehidupanku ke engkau . Kehidupan saya yang tak mempunyai rasa. Kebosanan saya & segala keluh kesahku. Tapi, mungkin cukup sampai di sini. Aku jua paham. Kamu pasti masih murka  sama saya.”
Bukan. Aku nggak murka  sama kamu! Aku sama sekali nggak marah. Tapi…
Nisa membatin pada hati. Ia benar-sahih tak tahu harus berbuat apa.
“Nis! Aku kembali dulu, ya!” Arul segera berjalan menuruni tangga dan lenyap berdasarkan pandangan Nisa.
Nisa tertunduk murung . Mungkin jua perasaan kesal kini   hadir membalut jiwanya.



“Nisa!”
Nisa segera menundukkan ketua, dilihatnya sosok ganteng  itu lagi. Arul sudah ada di lantai 1. Ia tersenyum ke arah Nisa sembari melambaikan tangannya. Dengan perlahan, Nisa pun mengangkat tangannya, kemudian dilambaikannya, membalas lambaian tangan si lelaki tampan, Arul.



“Eh, engkau  tahu nggak?”
“Kenapa kenapa?”
“Si Arul, berandalan sekolah kita. Katanya kemarin terdapat yang lihat dia sama si bisu.”
“Hah?! Serius?!”
“Iya. Kok mau-maunya si Arul yang tampan itu deket sama si bisu.”
Beberapa siswi bergosip ria pada pagi hari. Gosip mengenai Arul yang dekat dengan Nisa beredar begitu cepat. Gosip itu pun sudah sampai ke indera pendengaran Nisa. Namun, Nisa tidak peduli akan info buruk yang beredar tentangnya. Sementara itu, info tersebut belum hingga ke telinga Arul.

Sebuah sedan hitam berhenti sempurna di depan pintu gerbang sekolah. Seorang lelaki tampan turun berdasarkan kendaraan beroda empat hitam elegan itu. Ia merupakan Arul. Sedan hitam elegan itu pun segera melaju sesaat sesudah Arul turun dan menaruh isyarat. Arul mulai melangkah masuk ke dalam sekolah. Ketika baru saja melewati kantin sekolah, datang-tiba, “Arul!” seru segerombolan anak didik. Mereka adalah sahabat-sahabat yang selalu bersama Arul. Arul menolehkan pandangannya mencari asal bunyi. Kemudian, menghampiri sahabat-temannya.
“Pagi, Bos,” ucap Ivan pada Arul.
“Pagi, Bro. Ada apa? Masuk kelas, ayo!” ajak Arul kemudian.
“Tunggu bentar, Bro! Kamu sudah memahami nggak terdapat gosip menyebar tentang engkau ?” seru Fadhlin.
“Gosip? Gosip apaan?” tanya Arul bertanya-tanya.
“Gosip jika kamu deket sama si Nisa. Cewek yang pernah kita gangguin itu, lho,” balas Fadhlin.
“Oh yg itu. Itu bukan gosip lagi, sih. Itu memang kabar,” jawab Arul tenang.
“Jad-jadi bener?!” tanya lagi Ivan kaget.
“Iya. Memang kenapa, sih?” tanya Arul heran.
“Kamu belum tahu jikalau… si Nisa itu… bisu, Rul?” tanya Ivan lirih, tampak ragu-ragu.
“Apa?! Bi-bisu engkau  bilang?! Eh, jangan becanda kamu, Van!” nada bunyi Arul datang-datang meninggi. Sontak Arul meremas kerah seragam Ivan.
“Sori sori, Rul. Aku nggak bermaksud…”
“Sori. Aku kebawa suasana,” Arul segera melepas genggaman tangannya berdasarkan kerah seragam Ivan. “Aku masuk dulu,” lanjut Arul. Ia segera melangkah pergi menurut hadapan mitra-kawannya.
“Lagi-lagi kamu bikin mood Arul berantakan, Van,” ucap Fadhlin.
“Ya, sori. Aku nggak bermaksud begitu. Aku, kan, cuma…”
“Ya udah. Kita jangan ikut campur lagi urusan Arul. Mungkin dia sudah mulai mengenal cinta sedikit-sedikit lantaran cewek itu. Kalau memang kaya’ gitu, kita wajib  bersyukur, Van,” jelas Fadhlin tersenyum tipis.

Saat melangkah menuju kelasnya, Arul memang mencicipi sesuatu yg aneh. Ya. Setiap siswa yg melihatnya selalu berbisik-bisik tidak kentara. Itu telah pasti karena info yg tersebar. Tetapi, peduli amat tentang mereka. Begitulah Arul. Justru Arul berpikir bahwa dirinya memang kurang pandai karena nir menyadari bahwa Nisa ternyata bisu. Di dalam hati, ia terus menyalahkan dirinya sendiri.
Begitu bodohnya aku . Kenapa aku  tidak menyadari hal kaya’ gitu. Seharusnya aku  sadar saat dia nir pernah mau menjawab pertanyaanku. Sial!
Arul terus membatin menyalahkan dirinya sendiri. Ia mempercepat langkah kakinya, ingin menemui Nisa ke kelasnya.

Sesampainya pada kelas Nisa, ternyata Arul tak menemukan sosok indah itu.
“Ada yg memahami Nisa ke mana?” tanya Arul pada teman-teman sekelas Nisa.
“Nisa? Tadi Nisa sempat masuk kelas. Tapi, sehabis itu nggak tahu dia ke mana.”
Mendengar pernyataan itu, Arul pun segera berlari mencari sosok latif itu. Entah ke mana. Namun, beliau mencari Nisa ke setiap loka pada sekolah. Beberapa waktu mencari, Arul tak pula menemukan Nisa.
Ke mana beliau?

Berlari. Arul berlari menuju sebuah tempat yang terpikirkan pada benaknya. Satu-satunya tempat yang seringkali Arul kunjungi buat menghilangkan kebosanannya. Tempat tersebut ada di lantai 4 bangunan sekolah yang sudah tidak terpakai. Dengan terburu-buru Arul menaiki tangga menuju lantai 4.
“Nisa!” panggil Arul. Napasnya tidak teratur. Terengah-engah. Nisa, gadis itu kemudian menolehkan pandangannya. Ia pun melempar sebuah senyuman pada Arul. Tentunya, sebuah senyuman yg selalu ingin dipandang sang Arul.
“Kamu pada sini ternyata?” Arul mencoba lebih dekat. Nisa pun menganggukkan kepalanya.
“Maaf! Aku nggak menyadari…”
“Enggoak,” akhirnya Nisa memperlihatkan bunyi miliknya. Walau yang keluar hanya satu istilah, namun Nisa telah menunjukkan seberapa pantas Arul mendengar suaranya. Nisa pun sudah beruhasa keras mengeluarkan suara itu.
“Nggak. Kamu nggak perlu maksain diri kamu ngomong sama aku . Aku benar-sahih…”
Tiba-datang Arul menghentikan perkataannya. Dilihatnya Nisa sedang menulis sesuatu. Kemudian, ditunjukkannya pada Arul coretan tersebut.
“Kamu nggak galat. Maaf, aku  yg terlalu takut buat memberitahu engkau  mengenai kekuranganku. Maaf, suaraku memang jelek. Aku telah kaya’ gini sejak mini  ”, seperti itulah apa yg tertulis dalam kertas yang ditunjukkan Nisa dalam Arul.
Begitu memilukan ketika mengingat awal pertemuannya menggunakan Nisa. Arul terus menerus tenggelam ke dalam kesedihan. Bukan murung  sebenarnya. Ia hanya karam oleh suasana hatinya. Semakin pikirannya menerawang kejadin masa kemudian awal pertemuannya menggunakan Nisa, Arul semakin dipilukan olehnya.

Nisa membalikkan kitab   yang dipegangnya, kemudian mulai menulis lagi. Ditunjukkannya lagi dalam Arul coretan itu.
“Nama kamu Arul, kan? Aku senang  kamu nggak menjauhiku. Kamu orang pertama yang mencoba dekat, akan tetapi nggak pulang setelah mengetahui kekuranganku. Padahal sebenarnya dulu aku  takut sama kamu. Si berandalan sekolah yg populer karena kenakalannya. Tapi, sekarang saya sudah nggak takut lagi. Dan saya bahagia. Terimakasih, Rul”.

Setitik air mata jatuh membasahi lantai. Arul. Si berandalan sekolah itu meneteskan air mata mengingat kekonyolannya ketika itu. Namun, tidak terpungkiri lagi bahwa saat ini dia senang  karena senyum itu dapat dilihatnya lagi. Seakan senyum si gadis bisu menjadi pengiring tangis Arul, si berandalan sekolah.

Ketika kamu nir memedulikan kekurangan pasanganmu. Maka, kamu akan hingga dalam zenit kesetiaan. Segala uji & coba, akan terlewati disaat kamu & pasanganmu menjalani suatu ikatan itu menggunakan tulus & penuh keyakinan. Jadi, adakah berdasarkan kita yg pernah hingga dalam puncak  kesetiaan cinta?

Click to comment