Cinta Bisu Untuk Si Tampat Volume 1


Cinta. Berbicara tentang cinta tak ada habisnya. Setiap orang memiliki arti yg berbeda-beda tentang cinta. Ada yg bilang cinta adalah hadiah. Ada yg bilang cinta merupakan malapetaka. Tetapi, adakah satu berdasarkan kita pernah mencapai zenit kesetiaan cinta? Cerita berikut adalah sebuah berita puncak  kesetiaan itu sendiri.

Nisa namanya. Cantik. Kulitnya putih langsat. Ketika berada di kegelapan malam, ia bersinar layaknya berlian. Ketika dia tersirami cahaya, silau terpancarkan. Setiap siswa di SMA Negeri 3, pasti jatuh hati padanya waktu pertama kali melihatnya. Tetapi, sehabis mengetahui kebenarannya, satu per satu dari sekian anak didik yang jatuh hati itu mundur. Kenapa? Memang tidak ada yang sempurna pada dunia ini. Nisa. Ia bisu.
Karena kekurangannya itulah, sekarang beliau menerima julukan aneh berdasarkan sahabat-temannya. Ia dipanggil si bisu. Terkadang, ia mendapat hinaan yg teramat parah menurut beberapa siswi yang memang nir senang  dengan keberedaan Nisa. Kadang juga terdapat yang hingga keterlaluan menjahilinya. Dan jua para siswa ada yg menjadikannya menjadi bahan tertawaan mereka.

Pada suatu saat, Nisa berjalan menuju ruang perpustakaan. Jam pelajaran sedang kosong, para guru sedang kedap dan tak mampu mengajar. Oleh karena itu, Nisa memutuskan buat belajar ke ruang perpus.
“Cantik! Mau ke mana?” goda beberapa anak didik yang memang belum mengetahui penyakit gadis bernama Nisa. Nisa hanya terdiam dan terus melangkah. Gerombolan siswa itu pun segera mengikuti Nisa. Tak mau menyerah.
“Kok diam aja, Cantik? Boleh kutemani?” godanya lagi. Salah satu berdasarkan mereka bahkan ada yang hingga berani mencolek Nisa. Nisa pun mempercepat langkah kakinya. Namun, para siswa bandel itu tak menyerah.
“Sombong banget, sih! Kita kan cuma mau kenalan,” pungkasnya lagi tampak sewot.
Nisa semakin meningkatkan kecepatan langkah kakinya. Ruang perpus sudah deket. Batin Nisa. Akhirnya, hanya beberapa langkah lagi Nisa hingga di ruang perpus. Tetapi, sebelum mencapai pintu perpus, galat satu menurut grup siswa bandel itu meghentikan Nisa. Digapainya tangan Nisa. Tak dibiarkannya Nisa melangkah lebih jauh. Nisa segera berbalik arah sembari berusaha melepaskan lengannya.
“Eh! Sombong banget, sih, kamu!” kata lelaki itu dengan nada yang tinggi. Nisa tertunduk menatap lantai. Lengannya masih terbelenggu.
Kemudian, dilepasnya lengan Nisa oleh lelaki berandal itu sembari menyampaikan, “Sori!”
Nisa masih terdiam menatap lantai. Sedikit demi sedikit pandangannya mulai naik, hingga dilihatnya sosok lelaki tadi. Tampan. Mungkin satu istilah itu yang ada pada benak Nisa. Namun, kenapa lelaki setampan beliau malah nir punya sopan santun. Dan memperlakukan perempuan   semau-maunya.
Nisa pun mengangguk pada hadapan lelaki tampan itu, lalu masuk ke ruang perpus. Sementara lelaki berandalan itu, beliau terdiam sejenak.
“Yuk, kembali! Semuanya ngebosenin. Nggak seru!” perintah lelaki itu pada teman-temannya.



Arul namanya. Sosok lelaki tampan. Arul adalah siswa berandal pada sekolah. Ia selalu bolos pelajaran. Setiap gadis di sekolah itu pernah mempunyai perasaan terhadap Arul. Itu karena ketampanan Arul yang memang sudah mencapai tingkat internasional. Walau sifatnya yg sangat malas, ada beberapa gadis pada kelasnya yg mau saja diperintah sang Arul. Contohnya, saat terdapat tugas, Arul selalu memerintah beberapa gadis pada kelasnya buat mengerjakan tugas miliknya. Dan gadis-gadis itu pun terdapat yg saling berebut. Tetapi, begitulah Arul, ia tidak pernah benar-sahih jatuh cinta pada seorang gadis. Menurut pandangannya, semua wanita pada belahan dunia mana pun merupakan sama. Perempuan selalu ingin memiliki kelebihan lelaki. Mereka tidak pernah menyayangi begitu ikhlas. Dan karena itu, berpacaran hanya akan menjadi ajang pamer bagi setiap perempuan  .

“Rul! Aku pulang, ya. Ada urusan sementara waktu,” istilah Fadhlin pamit pada Arul.
“Wih, telah mau balik  aja. Baru aja nyampe,” balas Arul.
“Iya. Soalnya mendadak terdapat urusan, nih.”
“Urusan apa, sih?”
“Urusan. Si Silvi, mau ngajakin keluar jam segini.”
“Oh, gitu. Ya udah kalau emang gitu. Hati-hati, ya.”

Walau Arul memang poly mempunyai teman, & orangtuanya pula adalah orang kaya, tetapi semua itu tak menutup kemungkinan bahwa Arul merupakan lelaki kesepian. Kekayaan materinya justru hanyalah malapetaka baginya. Pernah dia berpikir, bila ia tidak dari menurut famili kaya, apakah sahabat-temannya masih ingin mengikutinya?

Malam itu, Arul sedang suntuk. Ia bosan berdiam diri di tempat tinggal   akbar itu dengan hanya seseorang pembantu yang selalu setia menyiapkan kebutuhan Arul. Ia pun keluar rumah guna mencari udara segar. Arul berjalan, melangkah pelan menuju sebuah taman pada komplek perumahannya. Pikirannya mulai menerawang paras gadis bernama Nisa. Padahal kalau beliau senyum aja, pasti bakal kelihatan cantik. Batin Arul.

Kedua mata Arul tiba-datang tersorot ke sebuah kursi panjang di seberang taman. Di kegelapan itu, terpaku sesosok gadis seseorang diri. Oh, gadis itu ternyata sedang melamun menatap oleh langit yg indah menggunakan sang rembulan yang bersinar terperinci. Arul menunduk menatap rerumputan pada taman. Kedua matanya sibuk mencari sesuatu. Sebuah batu mini  . Kini sebuah batu apung mini   berada pada tangan Arul. Dilemparnya ke sosok gadis itu. Gadis itu sontak terkejut sesudah batu yang dilemparkan Arul mengenai kepalanya. Dan kini  , kedua mata gadis itu sibuk mencari-cari berasal batu itu.

Arul melangkah menuju gadis bernama Nisa itu. Pelan. Begitu pelan. Hampir tak ada suara pada langkah kakinya. Begitu sampai, segera Arul duduk di samping Nisa. Nisa pun merasa terdapat eksistensi seorang di dekatanya. Nisa menolehkan pandangannya. Dan yg ditemuinya adalah Arul. Nisa terkejut. Ia menatap heran dalam Arul sebelum dia bergeser memberi ruang buat Arul.

Suasana tertelan keheningan. Detak jantung Nisa semakin cepat. Ia takut. Dipejamkannya kedua matanya sembari terus memohon supaya tidak terjadi sesuatu padanya. Bagaimana nir takut? Arul. Ia adalah sosok berandal pada sekolah yang sering menggoda Nisa ketika bertemu. Bukankah suatu kebetulan bahwa dia bisa bertemu malam ini dengan lelaki berandal itu.
“Jangan takut! Nggak bakal kuapa-apain, kok,” kata Arul memecah suasana mencekam itu. Nisa tidak percaya. Nisa permanen menjaga jarak. Ia waspada menggunakan segala sesuatu yang akan terjadi dalam dirinya.
“Udah kubilang, kan. Nggak bakal kuapa-apain. Jangan takut gitulah. Aku sudah kaya’ penjahat kel*min aja di mata engkau ,” Arul tertawa kecil. “Maaf, ya. Aku minta maaf lantaran selalu ganggu engkau  di sekolah. Aku nggak bermaksud dursila sebenarnya,” lanjut Arul.

Nisa tampak heran. Tetapi, dia sedikit lega mengetahui sifat lembut Arul. Seperti biasa, Nisa tak menjawab. Sampai waktu ini, Arul belum tahu bahwa Nisa ternyata nir dapat berbicara.
“Nggak di sekolah. Nggak pada sini. Kamu tetap aja nggak mau ngomong sama saya, ya. Apa sebegitu bencinya engkau  sama aku ?” tanya lagi Arul tanpa memandang ke arah Nisa. Nisa terpancing. Ia ingin sekali membantah jika sebenarnya beliau nir pernah membenci Arul. Hanya saja, selama ini Nisa takut padanya lantaran reputasinya pada sekolah menjadi berandalan.

Arul mendongakkan ketua, menatap bintang-bintang di langit.
“Hmmm. Ya sudah jikalau gitu. Mulai sekarang, aku  nggak akan ganggu kamu lagi. Di sekolah atau pun di mana aja. Sebelumnya saya minta maaf, ya. Namaku Arul,” Arul bangkit menurut duduknya. “Sampai jumpa, ya,” lanjut Arul seraya menatap Nisa yg hanya terdiam saja.
Arul melangkahkan kaki pelan, tetapi perlahan hilang pada kejauhan saat Nisa tidak henti-hentinya menatap Arul. Kini, sosok lelaki ganteng  itu telah sepenuhnya menghilang dari pandangan Nisa. Nisa menghela napas panjang. Kemudian, dia segera terbangun dan melangkah buat pulang.
Sebenarnya Nisa nir membuat malu buat berbicara memakai bahasa tubuh pada Arul. Dia hanya tidak ingin Arul mengejeknya sehabis mengetahui yg sebenarnya.

Malam semakin larut. Kedua mata Nisa masih bertahan dalam rasa kantuk. Ia terduduk di sebuah sofa pada ruang tamu. Nisa tersenyum ketika pikirannya menerawang peristiwa beberapa jam yang kemudian. Senyum itu, senyum yang selalu diharapkan Arul untuk terus terpancarkan.

Saat jam istirahat di kantin sekolah. Arul beserta sahabat-temannya sedang berkumpul. Biasanya, Arul selalu meminta uang pada teman-temannya. Malak istilahnya. Tetapi, entah mengapa Arul akhir-akhir ini seringkali sekali melamun. Kadang dia senyam-senyum sendiri tanpa karena. Teman-teman Arul pun merasa jika terdapat yang nir beres dengan Arul yang umumnya selalu jadi yg terdepan memalak anak-anak pada kantin sekolahnya.

“Rul. Kamu kenapa, sih? Akhir-akhir ini kamu acapkali ngelamun nggak kentara. Ada apaan, sih?” tanya Fadhlin. Arul tersadar menurut lamunannya.
“Nggak kenapa-kenapa, Bro. Lagi bosen aja akhir-akhir ini. Nggak terdapat yang baru. Selalu kaya’ gini setiap harinya,” keluh Arul seraya menghela napas panjang, menerangkan kebosanannya pada yang lain.
“Gawat! Kaya’nya kamu butuh sesuatu yg baru, Rul!” seru Ivan.
“Apaan emang?” tanya Arul penasaran.
“Kamu perlu jatuh cinta sama seorang, Rul. Mungkin aja itu sanggup buat kamu nggak bosen. Kaya’ saya nih. Di setiap harinya, walau pun hari-hari yang kujalani selalu terus-menerus, tapi Ratih selalu ada buat saya, Rul. Dan aku … pribadi bersemangat dibuatnya,” kentara Ivan tampak seru.
“Gitu, ya,” jawab Arul singkat seraya bangkit, kemudian berlalu pulang meninggalkan sahabat-temannya.
“Yah! Marah tuh si Arul,” istilah Fadhlin lirih. “Gara-gara kamu nih Van,” lanjut Fadhlin.
“Kok aku ? Aku kan cuma mengutarakan pendapatku,” bantah Ivan.



Nisa, si gadis bisu itu tampak sedang fokus belajar pada ruang perpustakaan sekolah. Nisa memang sangat sporadis ke kantin, seolah dia menjauh buat berteman menggunakan sahabat-sahabat sekelasnya. Nisa memang selalu sendiri. Karena penyakitnya itu, ia jadi kurang dalam komunikasi. Terkadang, pengajar-guru & sahabat-temannya tidak mengerti menggunakan apa yg dimaksud Nisa saat berbicara menggunakan bahasa tubuhnya. Oleh karenanya, ia jadi terasingkan oleh anak didik-siswa lainnya.

Ketika sedang fokus-fokusnya, datang-datang Nisa mendengar sesuatu pada kembali ventilasi perpustakaan.
“Husss! Husss!!!”
Nisa semakin penasaran menggunakan bunyi yang didengarnya. Nisa terbangun, lalu melangkah menuju ventilasi perpustakaan. Kepalanya menyembul, melirik ke arah kiri & kanan.
“Ini saya!”
Nisa terkejut. Ternyata si lelaki ganteng , Arul.
“Kamu lagi sibuk, ya?” tanya Arul. Nisa menggelengkan kepalanya.
“Kalau gitu. Boleh ikut saya sementara waktu?” pinta Arul nrimo. “Kalau nggak mau nggak apa-apa, sih,” lanjut Arul tampak tak percaya diri.
Nisa terdiam sejenak. Berpikir. Dianggukkan kepalanya tanda setuju menerima ajakan si lelaki tampan.
“Kalau gitu, aku  tunggu pada pintu perpus, ya!” istilah Arul kemudian segera melangkah menuju pintu perpustakaan.

Click to comment