Cinta Yang Sederhana Volume 1



Dear Diary

MasyaAllah,
Sungguh indahnya dirimu
Entah apa yg kurasakan kini
Kau sudah membuatku tersenyum setiap hari
Jantung berdegup kencang ketika kau & saya berpapasan & saling menundukkan pandangan
Ingin sekali tertawa mini   waktu kita hampir saja bertabrakan & sama sama terkejut kaku
Lantaran kita terlalu penekanan dalam jalan
Saat aku  melihatmu berdasarkan jeda jauh
Kau melukiskan bulan sabit yang latif dalam bibir ini 🙂
Dan kau pun begitu menenangkan
Yaa Allah..
Apakah aku  sedang jatuh hati?

Aisyah’ 2014



Setiap insiden yg saya rasa selalu kutuangkan dalam secarik kertas agar disuatu hari nanti saya bisa mengenang apapun dimasa lampau. Aku type orang yg sangat tertutup & pendiam. Sahabatku saja mengakui bahwa aku  pendiam bahkan dia menyangka saya tidak pernah menyukai seseorang ikhwan. Karena saya tidak pernah menceritakan hal yang ada kaitannya menggunakan hati. Entahlah saya relatif malas & risih sekali apabila sahabatku bercerita mengenai kisah cintanya. Saat itu Aisyah & sahabatnya sedang berkumpul pada rumah Karis.

“aduh kalian berisik banget sih.. Saya lagi nulis nih, lagi cari kata kata yg lezat   dijadikan puisi.” sentakku dengan lembut.
“huh.. Marah marah aja kalo kita lagi curhat mengenai ikhwan. Jatuh cinta sanaaaa biar   kamu bisa ngerasain jadi kita hihi” jawab Karis.
“apaan sih kalian, udah ah saya mau cari tempat lain aja”

Aku pun langsung berkiprah pergi & mencari loka yg tenang & sepi, aku  menoleh ke kanan kiri ternyata ada tempat duduk kosong pada sekitar taman. Bangku taman yg cantik dan agak memanjang.
“Nahh.. Disitu aja deh” bisikku.
Aku pun pribadi duduk pada kursi itu. Kubuka Buku Diary & pulpen favorite yg selalu terselip pada page kitab  , siap buat membangun puisi-puisi indah.

Aku berpikir sejenak buat menentukan tema yang akan ku jadikan puisi. Melihat di lebih kurang taman, tidak ada yg menarik buat kujadikan puisi. Aku pun terdiam sejenak dan pikiranku malah menunjuk dalam kata kata sahabatku ‘Jatuh cinta sanaaaa..’
“hihhh aduh apaan sih, males banget ihhh..” sembari menggeleng gelengkan kepalanya & tertunduk.
“Tapii kayanya aku  wajib  coba bikin puisi tentang cinta deh, supaya mereka ga ngolok-ngolok aku  lagi hmm” dengan senyuman sinis.

Kemudian aku  mulai memikirkan dan mencari ilham buat menciptakan puisi tadi.
“Emm.. Apa yaaa?? Aduh aku  kan ga ahli kalo mengenai cintaa..” dumelku pada hati.

Kutulis istilah perkata dalam kitab  . Saat penulisanku salah , kurobek kertas itu, kuremas sebagai bola & membuangnya. Tanpa disadari, ternyata sudah banyak kertas yang kurobek sehingga bola kertas pun berserakan pada kurang lebih bangku taman.

“Ini engkau  yang buang?”
Tiba datang seorang ikhwan duduk tepat di sampingku sembari menampakan bola kertas yang kubuang. Dadaku sontak kaget karena beliau sempurna sekali duduk pada sampingku. Aku begitu merasa gelisah & ingin segera pindah loka.
“Euh.. Emm i.. Iyaa.” Jawabku dengan relatif tegang.

Ikhwan itu membuka bola kertas yg dia pegang dan membacakan isi puisi yg gagal itu..

Cintaa..
Satu kata penuh makna
Yang ada pada setiap jiwa

“breekkkk…” kuambil kertas tersebut & meremasnya lagi. Ikhwan itu terdiam dan melirik ke arahku.
“Ukhti? Apakah engkau  sedang membuat puisi mengenai cinta? Hihi” Ikhwan itu bertanya sambil tertawa mini  .
“Emm nir..” Jawabku singkat.
“Kata pertamanya saja Cinta. Pasti puisi mengenai cinta, benar  kah?”
“Maaf akhi, aku  sedang terdapat urusan. Permisi, Assalamu’alaikum”
“Lho.. Ckck, waalaikumussalam”

Aisyah pun balik  ke tempat tinggal   Karis menggunakan tergesa gesa.
“Aisyah? Engkau  kenapa? Kok kaya yang habis dikejar hantu gitu sih haha” Tanya Fina.
Aisyah hanya melirik dan tersenyum sembari menenangkan hati.
“ga apa apa kok fin,” jawab Aisyah dengan santai.
“Benerr??”
“Kamu ga percayaan deh sama aku , aku  baik baik aja”
Aku pun mencoba menatap mereka satu persatu & pribadi memalingkan pandangan.
“Tuhh kan, terdapat apa sih? Cerita dong ceritaa.. Kalo terdapat apa apa tuh cerita” Karis mencoba buat membujukku buat bercerita.
“Emmmm… akan tetapi aku  malu kalo nanya hal ini ke kalian” jawab Aisyah.
“Apa? Mau nanya apa?”
(Jodoh global akhirat.. Namamu rahasia, tapi kau ada dimasa depankuu..) Ringtone hp Aisyah berbunyi.
“Ehh tunggu tunggu, aku  angkat telepon dulu” Aisyah pun keluar untuk mengangkat telepon.
“Duhh ringtone nyaaaa.. MasyaAllah, diam diam engkau  suka  lagu tentang jodoh yaa syah.. Hahha” Fani menertawakan ringtone hp aisyah.

“Hallo? Assalamualaikum..”
Aisyah mencoba buat membisu dan mendengarkan akan tetapi tak ada sedikitpun suara. Akhirnya Aisyah tetapkan telepon tersebut.



“Hmm jaman sekarang orang jail ada ajaaa” sembari menyimpan hp ke pada tasnya.
“Siapa yang nelpon syah?” tanya karis.
“Orang jail..” jawab Aisyah sembari membereskan barang barangnya.
“Hah? Terdapat terdapat aja engkau  syahh”
“Aku pergi duluan yaa, maaf ga bisa lama   usang bareng kalian.” Akupun berpamitan.

Sesampainya di tempat tinggal  , saya segera sholat ashar lantaran waktu di bepergian aku  belum sholat.
Setelah terselesaikan sholat, Aku membisu pada atas kasur sambil memandang ke arah ventilasi & hujan mendukungku buat menciptakan puisi.

Tetapii.. (plup plup plup) ternyata terdapat pesan masuk pada hp Aisyah.

‘Cinta, satu istilah penuh makna, yg terdapat pada setiap jiwa’

Aisyah terdiam & merasa heran ketika membaca pesan tadi.

“Lho.. Ini kan puisi yg tadi saya buat, siapa pengirim pesan ini? Jangan jangan ikhwan tersebut lagii. Tapii beliau tau dari mana nomer hp ku?”
Aisyah pun mengingat ngingat kejadian tersebut siang.
“Perasaan saya ga ngasih no hp deh, ah Yasudahlah biarkan saja” bisik Aisyah sembari menutup & menyimpan hp nya.

Aisyah mendekati jendela dan membukanya. Aisyah menatap langit sembari mengulurkan tangannya, tetesan air hujan dia rasakan. Dingin akan tetapi penuh dengan kesejukan.

Dear Diary ‘2017

Yang ku memahami, cinta merupakan fitrah
Tanpa mereka ketahui
Sebenarnya saya sedang mengasihi ciptaanMu
Maafkan diri ini yang sedikit berpaling
Dan kini   aku  mengharapkan beliau
Untuk menjadi calon pendampingku

Yusuf
Sudah hampir 3 tahun
Aku menunggumu disini
Dengan hati yg sama
Dan perasaan yg sama
Seperti dahulu..
Aku yg mengagumimu

Seandainya Tuhan memberikan Aku ketika buat bertemu dirimu
Walaupun saat itu Aku hanya memberikan salam untukmu
Itu sudah lebih berdasarkan relatif buat mengobati rasa rinduku

Tapi buat apa?
Dia pun sama sekali tidak mengetahui Aku
Bagaimana bisa dia merindukanku balik ?
Itu sangat tidak mungkin

Salamku untukmu, Yusuf.

Hanya Allah-lah yang mengetahui rasa cintanya. Yusuf, kaka tingkat Aisyah waktu Sekolah Menengah Atas yg sekarang sedang meneruskan kuliahnya pada Jakarta. Aisyah baru mencicipi jatuh cinta ketika Sekolah Menengah Atas. Tetapi tidak heran bila ia masih bertahan buat mengasihi Yusuf walaupun selama 3 tahun dia tak pernah mendengar warta mengenai Yusuf. Tanpa seorang pun mengetahuinya. Aisyah memupuk perasaan yg lebih.
“Kak Yusuf, kapan yaa kita ketemu lagi.. Kapan abang kembali ke Bandung? Aisyah merindukan saudara tertua” bisiknya sehabis menulis diary.

Dua tahun kemudian…
(Tok tok tok..) Suara ketukan berdasarkan arah pintu kamarku. Aku terbangun..
“Aisyaaahh.. Ayo bangun nak” Suara Umii sudah membuka mataku & langsung melihat ke arah jarum jam.
“Astaghfirullah..” ternyata jarum jam telah memperlihatkan pukul 07.00 WIB. Aisyah membuka pintu kamar.
“Iyaa umii.. Aisyah eksklusif siap siap nih mi”
“Makanya kalo udah sholat shubuh jangan tidur lagii..” kata umii.
“Aku ngantuk banget mii,”
“Ya udah cepetan siap siap”
Aisyah segera ke kamar mandi & bersiap siap berangkat wisuda.
“Pokonya kamu harus dandan yang cantik ya nak, Umii bakalan kenalin engkau  ke anak temen umii ketika makan siang” umii berbicara sendiri.

Click to comment