Cinta Yang Sederhana Volume 2


Ruang tamu..
“Nahh.. Akhirnya udah siap. Cantik banget anak umii.. Subhanallah, yu berangkat”
“Hmm umii bisa aja,”
“Habis pergi wisuda kita makan siang dulu yaa di tempat tinggal   makan deket kampus kamu” Ajak umii.
“Tumben mi, ada apaan sih mi? Hehe” tanya Aisyah.
“Kan ada yang mau ngajak kamu perkenalan syah.. Baru aja tersebut umii sampein ke kamu, udah lupa” jelas umii.
“Hah? Apa umii? Ta’aruf? Mii pliss jangan bercanda deh” dengan mimik muka yg khawatir.
“Ngapain umii bercanda, lagian umii serius kok” senyuman manis terpancar dari wajah umii.
Aisyah mengerutkan jidatnya dan mengatakan dalam hatinya.
‘umii, Aisyah tidak siap buat hal ini. Untuk saat ini, Aisyah masih mengasihi ka Yusuf’

“Lho kok malah ngelamun sih, udah ah yuk berangkat. Nanti terlambat lagii..” umii menggandeng tangan Aisyah dan mengajaknya ke pada kendaraan beroda empat.

Kemudian sehabis wisuda terselesaikan..
“Aisyah, udah selesai kan? Kita makan siang yu.. Umii udah laper nih, takut kita dateng telat ke tempat tinggal   makannya sebelum calon engkau  tiba. Malu dong, umii yang undang mereka. Masa umii yg telat” ajak umii.
“umii yang ngundang?”
“iyaa sayangg..”
Aisyah hanya terdiam & gelisah karena beliau selalu teringat perasaannya kepada Kak Yusuf.



Di tempat tinggal   makan..
Aisyah hanya mampu membisu saat perbincangan antara umii & temannya berlangsung. Aisyah tak sanggup berterus terang tentang perasaannya dalam umii. Semua kemauan umii Aisyah jawab dengan kata ‘Iya mii’ karena Aisyah tidak ingin mengecewakan umii dengan penolakan Aisyah. Aisyah sama sekali nir mau melihat calon yang dipilih sang umii. Maka berdasarkan itu Aisyah tertunduk sembari menunda kesedihan pada hatinya.

“Umii, bolehkan Aisyah biar   pulang sebentar? Aisyah ingin mencari udara segar.” Aisyah menahan air matanya agar tidak menetes pada depan umii.
“Silahkan nak, Tapi jangan usang usang ya. Ga enak dong sama calon kamu” jawab umii dengan sedikit menyindir.
“iyaa umii”
Aisyah mengambil kunci kendaraan beroda empat dan pulang ke suatu villa dimana tempat itu begitu tenang dan menyejukkan.

Saat di bepergian Aisyah menyetir sambil menangis. Aisyah pun berteriak kesal, Air mata tak sanggup dibendungnya. Aisyah meluapkan semua kekesalannya pada pada mobil.
“Umii.. Kenapa umii wajib  misalnya ini. Aisyah nir mengasihi ikhwan pilihan umii.. Aisyah hanya ingin kak Yusuf. Ikhwan pilihan Aisyah karena Aisyah hanya mengasihi kak Yusuf mii..”
Aisyah tak henti hentinya menangis di dalam kendaraan beroda empat.

Tiba tiba saja..
(plup plup plup) pesan masuk.
Aisyah melirik ke arah hp dan memberhentikan mobilnya.
“Aisyah, engkau  kemana nak?” ternyata pesan itu dari umii.
“Afwan umii, tampaknya Aisyah akan menginap di villa umii buat malam ini. Aisyah butuh ketika untuk mendapat perjodohan ini” Jawab Aisyah.
“Baiklah syah, Hati hati yaa”
“Syukron umii”

Kemudian Aisyah melanjutkan perjalanannya menuju villa. Hujan gerimis mulai mengembang hingga kaca kendaraan beroda empat pun berembun. Sesampainya di depan villa, Aisyah keluar menurut mobilnya. Ia nir langsung lari & masuk ke villa. Namun dia dengan sengaja keluar menggunakan perlahan sampai air hujan membasahi badannya. Aisyah berjalan menuju tempat yang pada depannya merupakan sebuah jurang. Aisyah terdiam, menangis kesal hingga mengepalkan tangan kanannya dan tangan kiri menyentuh dadanya.

“Yaa Allah, begitu sakitnya & begitu sesaknya dada ini. Kuatkan saya Yaa Allah” Aisyah memejamkan matanya dan tertunduk.

Tak usang terdapat seseorang yang memayungiku di belakang.
“Ukhti.. Sebaiknya ukhti masuk ke villa dan berteduh disana. Apabila ukhti hujan hujanan seperti ini, ukhti sanggup sakit”
Aisyah pun berbalik badan lalu lari menuju villa. Ia masuk dan menghangatkan badannya.

Hari semakin gelap, Aisyah segera mengambil air wudhu. Aisyah sholat dan berdoa kepada Allah buat minta ketenangan. Sebelum tidur, Aisyah membuka diarynya & menuliskan..

Dear Diary
Aku acapkali mendengar kalimat
‘Cinta tidak wajib  mempunyai’
Ditengah kata Cinta dan Memiliki
Ada dua istilah yg menciptakan saya tak mampu terhenti buat menangis
Yaitu kata Tak Harus

Namun …
Mengapa Engkau memberikan rasa cinta ini?
Apabila memang bukan beliau yang sebagai Jodohku
Apakah rasa Cinta yg kumiliki selama ini
Salah?

Tapi Cinta merupakan fitrah
Yang tidak patut buat dipersalahkan
Yang seharusnya disyukuri oleh setiap manusia

Yaa Allah
Bantulah aku  buat mengikhlaskan
Bantulah aku  untuk menyayangi ikhwan pilihan



Aisyah,

Satu hari sebelum pernikahan, teman Aisyah tiba ke tempat tinggal  .
“Ciee yg besok mau nikah, hihi. Ternyata membisu diam kamu senang sama ikhwan ya syah..” istilah karis.
“Iyaa nih huu, ga pernah cerita lagi sama kita. Nama calonmu siapa sih syah? Kenalin dong..” tanya fina.
Aisyah hanya tersenyum ketika mereka menyindirku.

(Astaghfirullah, sampai H-1 pernikahanku.. Aku sama sekali tidak mengetahui nama calon pendampingku) pada hati, dibalik senyuman Aisyah yg sebenarnya bukanlah senyum kebahagiaan.

“Ohh nama calonnya?” datang datang umii menyambung pembicaraan kami.
“Iyaa umii.. Siapa nama calonnya?” tanya fina.
“Namanyaaa..”
“Euhhh nanti pula kalian tau, izin surprise dong.. Hehe” potong Aisyah.
Aisyah sengaja memotong pembicaraan mereka karena Aisyah tak kuasa mendengar nama ikhwan lain selain kak Yusuf.
“Emm ok baiklah, suprise katanyaaa hihi” sambung umii. Aisyah pun tersenyum dengan agak terpaksa.

Malam tiba..
Aisyah berdiam diri pada kursi halaman depan rumah dan Aisyah pun berbisik..
“Ka yusuf, waktu ini aku  masih menyayangi kaka. Sampai sekarang bintang pun mendeskripsikan paras kakak. Esok saya akan menikah, trimakasih kak telah sebagai cinta pertama Aisyah” Aisyah pun tersenyum.

Beberapa mnt kemudian..
“Aisyah.. Engkau  lagi apa?” umii menghampiri.
“Emm.. Lagi diem aja mii, oiya mii.. Aisyah mau nanya boleh ga?” dengan wajah penasaran.
“boleh dong nak, mau nanya apa?” sambil merangkul pundak Aisyah.
“Emm.. Cinta pertama umii siapa?” tanya Aisyah.
“Abii, Abii kamu syah..”
“Jadii… ikhwan yg telah menjadi suami umii sekaligus abiinya Aisyah itu cinta pertama umii?” tanya Aisyah.
“Yapss.. Seratus buat Aisyah. Betul sekali.” sembari mencubit pipi Aisyah.
‘andai saja Aisyah sanggup misalnya umii, Aisyah ingin… cinta pertama lah yg menjadi pendamping Aisyah. Yaitu Ka Yusuf. Tapii…’ Aisyah berbicara dalam hati sambil menatap estetika bintang dimalam hari.
“Udah yuu .. Kita masuk kamar. Udah malem” Ajak umii.
“iyaa mii..”
Umii dan Aisyah pun masuk ke kamar & mengistirahatkan diri.

Click to comment