Hanya Mengikuti Alur



Apa sekolah itu sahih-sahih menyenangkan?

Pada saat ini, aku  telah kelas XII SMK, & kehidupanku dirasa membosankan. Setiap harinya hanya di tempat tinggal   dan pada sekolah. Orang-orang akan bilang jika saya ini adalah seorang yang pemalu, dan untukku, saya memang mengakui hal itu. Tapi jauh pada lubuk hatiku, aku  ini adalah sosok yang poly bicara. Hanya, saya gak bisa bicara normal dalam orang yg belum aku  percaya. Dan saya hanya enggan berbicara jika gak terdapat untungnya buatku.

Hari ini adalah hari kamis, dan sekolah kami selalu mengadakan pemilihan ketua bergilir buat perwakilan warga  di akhir bulannya, itu berarti ketika ini telah termasuk akhir bulan. “Semoga saja bukan aku  yg terpilih” gumamku pada hati. Tapi tentu saja takkan aku  yang terpilih kan? Soalnya aku  merupakan orang yg auranya tersembunyi. Bahkan hampir takan ada orang yang menyadari keberadaanku.



Dan ketika perwakilan OSIS memasuki kelas kami, sahih saja.. Bukan saya yg terpilih. Tapi dia, adalah seseorang bendahara pada kelas kami. Dia sosok yang berwibawa & tegas. Seorang perempuan   anggun dengan kulit putih dan rambut panjang yg nampak misalnya berlian pekat. Dia termasuk keliru satu perempuan   terkenal pada kelasku. Tak keliru apabila dia tertunjuk sebagai kepala perwakilan kelas bulan ini, akan tetapi sebenarnya.. Ini adalah kali ke empat bagi beliau. Jadi munkin ini adalah hal biasa buatnya.

Saat sepulang sekolah, tanpa alasan yang pasti, aku  memikirkan sesuatu yg umumnya tidak aku  pikirkan. “kenapa tadi aku  berpikir bila saya ga mau jadi kepala perwakilan ya? Padahal sudah kentara saya takkan mungkin jadi ketua perwakilan kan!” gumamku dengan kesal. Ini merupakan keliru satu pemikiran yang paling saya benci. Pertarunga pada diri sendiri dengan ketika menjadi bayaran. Hal ini hanya akan membuang waktuku yg berharga.

Saat keluar berdasarkan gerbang, tiba-tiba seorang memanggil namaku dari belakang “hey.. Raka… tunggu… Raka..” waktu aku  melihat ke belakang, saya melihat seorang gadis sedang berlari ke arahku dengan nafas terengah-engah. Seorang gadis menggunakan rambut panjang dan kulit mulus bagaikan salju dari Eropa. Tapi dia bukanlah siswi dari kelasku. Aku tau siapa beliau.. Dia merupakan siswa kelas XI. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali pada kantin. Sejujurnya saya nir terlalu suka  menggunakan suasana setiap kali kita bertemu dengannya. Tapi walaupun aku  tau siapa dia, tapi saya gak tau siapa namanya.

Tidak usang, diapun berdiri pada hadapanku “saya mencarimu kemana-mana.. Ternyata engkau  telah keluar.. Untunglah belum jauh” sapanya menggunakan paras kelelahan dan nafas terengah-engah
“Bagaimana mungkin berlari pada pada sekolah sanggup hingga membuatmu kelelahan??” tanyaku dengan nada pelan
“tentu saja!! Aku telah mencarimu kemana-mana, tapi setiap kali saya menanyakan kepada orang. Mereka malah tanya kembali padaku. ‘Raka? Siapa beliau? Aku gak kenal dengan orang yg namanya Raka..’ itu membuatku membuat malu tau!!” ujarnya menggunakan ekspresi kesal..
“Aah.. Tentu saja.. Kemungkinan hanya kelas aku  saja yang mengenali siapa aku .. Itu pula mungkin. Tapi tunggu.. Kamu kenal saya?? Dari mana?” tanyaku sedikit kaget.
“Ahh.. Itu.. Aku  liat absen kelasmu dan menanyakannya pada pengajar.. Akan tetapi ya.. Lagi-lagi hanya beberapa pengajar saja yg mengenalmu.. Sebenarnya terdapat apa sih dengan kamu & sekolah ini? Rasanya kamu ini seperti siswa yg gak pernah ada deh..”
“maksudmu ‘another!!’ Heheh.. Sudahlah jangan bahas itu yah.. Rasanya menyakitkan jika menyampaikan tentangku!!”
“E’.. Tentangmu? Suramnya..!! Hahahh.. Ternyata engkau  ini banyak bicara pula ya. Kelihatannya kamu pula mudah akrab menggunakan orang” sindirnya padaku.
Aku terdiam sejenak.

Selagi berjalan bersama, beliau mengajaku bicara lagi “anu.. Aku  butuh bantuanmu.” Katanya dengan aktualisasi diri yg dipaksakan. Aku bingung menggunakan perkataan dan ekspresinya. Rasanya beliau sedang menyembunyikan sesuatu. Lagian kenapa pula wajib  aku , bahkan aku  bukanlah orang yang bisa dibutuhkan.
“Kenapa? Memangnya apa yang bia aku  bantu? Ditambah lagi kenapa engkau  meminta saya? Padahal ya.. Sepertinya ini pembicaraan pertama kita!” kataku menciptakan-buat alasan buat basa-basi..
“Salah.. Ini kedua kalinya loh.. Kita pernah bicara satu kali ketika kita di Angkutan Umum waktu itu. Aku minta bantuanmu lantaran saya merasa hanya kamu yang mampu aku  andalkan, ditambah lagi, saya ingin lebih dekat lagi denganmu..”
Sesaat wajahku tersipu memalukan hingga keliru tingkah “Heeh? Kamu waras kah?? Itu merupakan kalimat yg cantik tau.. Hal itu sanggup membuatku terkena penyakit diabetes!! Sebaiknya kamu hentikan itu.. Kita ini baru saja saling kenal!” sesaat detak jantungku semakin tinggi diiringi dengan tingkahku yg gak sanggup dikendalikan. Tetapi aku  bukanlah orang yang ndeso dan sanggup tertipu suasana, aku  hanya masuk dalam serangan sesaat. Itu memang hanya sesaat..
“Tapi jikalau soal donasi.. Jika hal itu mudah dan saya terdapat saat luang, mungkin saya mampu membantumu..” jawabku atas permintaannya. Saat saya mengatakannya, dia terlihat senang . Dan dia pribadi memberikan angka ponselnya padaku “nih.. & aku  juga butuh angka ponselmu.. Jadi kita lakukan pertukaran sekarang…”
“Tunggu-tunggu!!! Kenapa secepat ini.. Aku  memang sepakat buat membantumu akan tetapi kan saya belum tau apa yang mampu saya bantu, ditambah lagi aku  masih wajib  memikirkan apa saya akan menyetujui permintaanmu..” sejenak saya berpikir bahwa wanita ini terang-terangan & terlalu polos.. Tapi cita rasanya wanita seperti itu gak mungkin ada lagi.. & kalaupun terdapat. Dia niscaya merupakan orang yang akan aku  benci!!

Setelah saya menolak buat menaruh angka ponselku, dia terlihat sedikit heran. Padalah sudah jelas-kentara saya menunjukkan aura penolakan, akan tetapi dia malah mengatakan “kenapa? Padalah saya pikir kau 100% akan membantuku. Tadi kau bilang kau akan membantuku kalau kau ada ketika luang kan? Setahuku kau itu pengangguran & gak punya aktivitas apapun..” beliau mengatakannya dengan aktualisasi diri datar seakan hal itu bukan hal yg krusial.
Mendengar perkataanya itu, benar-sahih membuatku membuat malu.. Bagaimana mungkin dia tau bila aku  gak punya kegiatan apapun. Itu membuatku terlihat sebagai seorang pemalas “Haah… dasar bohoh.. Kenapa engkau  tau mengenai diriku begitu poly & mengucapkannya tanpa memikirkan perasaan orang lain… akan tetapi sudahlah.. Lagipula ketika ini memang akulah yg salah ” dengan eksresi penuh dengan kepasrahan, akupun menuliskan angka ponselku dan memberikan kepadanya.

“tapi dengarkan ini & jangan lupa baik-baik. Aku ga selalu memakai nomor  yang sama. Jadi saya akan berikan alamat emailku. Ini adalah akun tetap & gak akan aku  hapus, karena di dalamnya terdapat banyak data yang krusial. Terimalah” kataku padanya sambil menaruh alamat emailku. Pemberian alamat email itu merupakan hal yang berharga buatku. Karena gak seluruh orang melakukannya dan cenderung orang-orang penting saja yang melakukan hal ini. Namu sampai ketika ini, belum pernah terdapat orang yang tau akan maksug dibalik seluruh ini, & mereka cenderung membuangnya karena dianggap terlalu membuat repot. Apakah beliau akan sama seperti para sampah berkamuflase itu? Bagiku ini adalah bentuk kesungguh-sungguhan & penerimaan atas adanya diriku! Yang berbeda dari yg lain.
“terima kasih.. Kamu bahkan sampai menaruh agama sebanyak ini.. Akan aku  terima & akan aku  simpan baik-baik.. Email adalah sesuatu yg resmi & privat.. Niscaya akan saya jaga”

Sejenak istilah-katanya membuatku merasa hangat. Dengan senyuman & aktualisasi diri senangnya, membuatnya terlihat sangat cantik pada mataku. Manis ini.. Merupakan cantik yg natural. Meski aku  belum tau siapa namanya dan apa tujuannya. Tapi jarang ada orang yg bisa bertahan lama  -lama   denganku. Sejenak aku  berpikir, apakah ini akan berlangsung selamanya. Ataukah dia akan pulang lagi. Tetapi fenomena selalu sangat getir di depan mata.

Click to comment