Ikhman Dalam Mimpi Volume 3



Krriiinnnggg!!
(nahh.. Udah bel nih..) dalam benakku sambil melirik ke arah dillah.

“ratih, saya ke kantin dulu yaa..” sembari tersenyum. Aku pun tersenyum dan mengangguk.
Saat itu aku  nir mengeluh lantaran dia ke kantin duluan, malah aku  membiarkan dia pulang.

Beberapa mnt kemudian aku  pribadi berjalan ke arah kantin. Sesampainya di sana, aku  sama sekali tak melihat dillah.
‘kok dillah ga terdapat yaa.. Kemana sih dia’ bisikku sambil menengok ke kanan dan ke kiri.
Karena dia nir terdapat pada kantin, aku  pun berniat buat balik  ke kelas. Saat ku kembali badan..
“aduuhh..” terdapat seorang yang tak sengaja kutabrak. Saat kulihat beliau.. (degh…) dia adalah ikhwan itu. Seketika badanku lemas dan gugup.
“maaf maaf..” aku  pun mengambil barang barang yg ia bawa karena tersebut aku  telah menjatuhkannya.
“gapapa ko.. Makasih ya.. Permisi” beliau seperti orang yg sedang tergesa-gesa. Aku hanya terdiam melihat beliau pulang. Kutundukkan kepalaku dengan perasaan kecewa.



Saat kulangkahkan kakiku “druukk..” seperti terdapat sesuatu yang kuinjak. Aku  pun segera melihatnya dan ternyata itu merupakan obat tablet.
“masyaallah.. Obat siapa ini?” kuambil obat itu & kuperhatikan. Di plastik obat itu terdapat nama pasien dan takaran dosisnya. Nama pasien tadi merupakan Aris.
“Aris? Siapa Aris? Hmm.. Ya udah saya simpan dulu aja obat ini namun aku  harus segera cari tau siapa Aris” dengan hati yang tidak ragu saya eksklusif kembali ke kelas.

Saat hingga pada kelas, dillah belum pulang ke kelas. Aku pun memikirkan kejadian tersebut, ketika aku  tidak sengaja menabrak ikhwan itu.

Tiba datang saja jantungku berdegup dengan kencang dan pikiran pun semakin penasaran antara obat dan ikhwan itu. Aku pun sudah tidak sabar menunggu dillah buat menanyakan nama ikhwan itu. Tapi dillah tak datang juga sampai pelajaran berlanjut.

Beberapa jam lalu..
Tok.. Tokk.. Tokk..
Ada seseorang orang yg mengetuk pintu kelasku. Salah satu temanku membuka pintunya.
Temanku pun datang-datang mengahampiri mejaku & merogoh tas dillah.
“mau dibawa kemana?” tanyaku khawatir.
“bu Dea menyuruhku merogoh tas dillah.. Katanya dillah mau izin.. Jadi tasnya mau dibawa saja” jawabnya.
“Ohh ya sudah.. Silahkan” dengan paras yang heran, saya pun mempersilahkan temanku mengambil tas tersebut. Dan aku  merasa kecewa lantaran Aku tak sanggup menanyakan nama ikhwan itu.

Malam hari..
Aku mencoba menghubungi dillah buat menanyakan nama ikhwan itu. Dan ternyata sahih, ikhwan itu bernama Aris. Saat itu, saya terus menerus memperhatikan obat yg tadi kutemukan.
‘obat apa ya ini? Saya baru lihat obat yang misalnya ini?’ Dengan rasa bertanya-tanya saya pun membuka internet & mencari tau mengenai obat itu.

Saat kucari & kubaca artikelnya.
Air mataku tiba tiba menetes & hati pun diam. Ternyata itu merupakan obat penahan rasa sakit buat penyakit Hati.
“Astaghfirullah.. Aris.. Ternyata selama ini engkau  sakit. Dan penyakit kamu itu berbahaya sekali.” Aku menangis tak tertahankan. Rasa kagumku sudah menjadi rasa yang terpendam. Entah kenapa cita rasanya saya takut kehilangannya sekarang.

Keesokan harinya, saya berniat buat mengembalikan obat itu padanya. Saat waktu sholat dzuhur saya menunggunya pada depan mesjid, namun dia tidak ada. Kemudian kutunggu dia pada gerbang sekolah waktu pergi, tapi dia masih tidak terdapat.
“Apa dia ga masuk sekolah? Kenapa beliau?” perasaanku sangat risi. Aku begitu gelisah waktu itu.
“Apa gara gara beliau belum minum obat ini, beliau jadi sakit? Yaa Allah.. Aku benar-benar tidak tenang. Aku takut beliau kenapa napa.. Hari ini dillah pun tak masuk sekolah. Kenapa mereka tidak masuk diwaktu yg bersamaan?”

Lantaran menunggu lama  .. Aku  tetapkan buat pulang. Sesampainya di rumah, adzan maghrib sudah berkumandang. Aku pun sholat & mengaji hingga isya.
Kemudian mata pun mulai mengantuk dan tidur terlelap.

Malam ini saya bermimpi sangat Indah, saya bertemu ikhwan itu lagi. Ikhwan yang selama ini menghantuiku. Ikhwan itu misalnya Aris. Atau mungkin itu memang sahih-sahih Aris. Saat itu Aris memanggilku, tapi bukan buat menyampaikan surat lagi dalam dillah.. Melainkan dia telah membuatkan surat untukku. Aku tersenyum membuat malu waktu beliau memberikan surat itu.
“apa surat ini sahih untukku?” tanyaku padanya.
“iyaa.. Itu buat engkau . Baca yaa.. Saya pergi dulu, sampai jumpa lagi” datang datang dia hilang pada mimpiku.

Subuh subuh saya terbangun. Hpku berdering karna terdapat telpon yg masuk. Ternyata dillah yang meneleponku.
“Assalamu’alaikum ratih..”
“Waalaikumussalam.. Ada apa dil?”
“Maaf yaa ganggu.. Aku mau ngasih fakta sedih sama engkau . Kakak saya meninggal. Pagi ini engkau  mampu ke tempat tinggal   saya ga, pliss” dengan bunyi yg mendesah & tangis.
“Innalillahi wainna ilaihi roji’un.. Yaudah aku  langsung ke tempat tinggal   kamu ya dil. Tapi kok aku  baru tau ya, semenjak kapan engkau  punya saudara tertua?”
“Nanti aku  ceritain sama kamu.. Ya udah udah dulu yaa.. Wassalamualaikum”
“Waalaikumussalam..”
Mendengar keterangan itu, saya langsung mandi, sholat & bersiap siap pergi ke rumah dillah.

Saat memasuki wilayah tempat tinggal   dillah, ku lihat ada bendera rona kuning. Aku mempercepat jalanku buat sampai ke rumah dillah.
Beberapa mnt lalu, aku  pun hingga & pada rumah dillah telah banyak tetangga yg melayat. Aku pun masuk & menemui dillah.
“dil..” saya menepuk pundak nya menggunakan halus.
Dia menengok ke arahku dan memelukku begitu erat. Dillah menangis pada pundakku. Aku pun mencoba menenangkannya.
“dil, semenjak kapan kamu punya kakak? Kamu ga pernah cerita kalo engkau  punya kaka” tanyaku menggunakan rasa bertanya-tanya. Dillah tak menjawab pertanyaanku, beliau masih terus menangis.

Aku pun mencoba memberanikan diri buat membuka kain yang menutupi wajah jenazah kaka dillah.
Saat kubuka kain itu..
(degh..) dadaku lemas, saya benar-sahih terkejut. Jenazah itu adalah Aris. Ikhwan yang selama ini aku  kagumi bahkan rasa kagum itu sudah menjadi sebuah perasaan yg terpendam. Mulutku tidak bisa menyampaikan kata. Hanya air mata yang mewakili semuanya.
‘Arisss… kamuu?? Saudara tertua nya dillah? Ariss.. Kenapa engkau  meninggalkanku disaat saya mencintaimu. Kenapaa?’ Hatiku berteriak & menangis.



“ratihh.. Sebelum kakakku mati. Dia menitipkan surat ini untuk kamu. Baca ya..”
Kuhapus air mataku & membaca surat itu.

Isi surat itu..

Ratih..
Terimakasih engkau  telah menyempatkan dirimu untuk membaca surat ini..
Maaf.. Aku tidak memberikan surat ini secara eksklusif..
Seperti dalam mimpimu..
Karena saya harus pulang..
Tuhan sudah memanggilku buat pulang..
Aku begitu kesakitan saat aku  kehilangan obatku..
Aku tidak kuasa menahan rasa sakit itu hingga akhirnya saya masuk ICU.
Kini saya telah lelah melawan penyakitku..
Ratih..
Sebenarnya ikhwan misterius itu aku ..
Aku tau seluruh kisah mimpimu dari adikku.. Dillah..
Sejujurnya aku  sudah jatuh hati padamu ketika aku  membantu mengobati lukamu pada hari itu..
Dan kamu lah satu-satunya alasan ku buat bertahan melawan penyakitku.
Terimakasih Ratih..

Click to comment