Ikhwan Dalam Mimpi Volume 2



Tiba tiba saja ada yang menepuk pundakku.
“ratihh.. Ternyata kamu di sini, aku nyariin tau ga!” dengan nafas yang terengah-engah.
Aku pun melihat ke belakang dan ternyata itu adalah dillah.
“kamu ini ngagetin aja deh.. Sebel..” dengan nada suara yang sedikit emosi.

Aku pun menoleh ke depan untuk melihat ikhwan itu, tetapi ikhwan itu sudah tak ada di hadapanku.
“dil, kamu liat ikhwan tadi ga?” tanyaku pada dilah.
“ikhwan? Dari tadi kamu sendiri ratihh” jawabnya dengan sedikit tertawa.
Aku pun terdiam, (jangan jangan ikhwan itu.. Makhluk gaib.. Astaghfirullah!) aku pun mengedipkan mataku dan mencoba menyadarkan diriku.
“kamu kenapa sih?” tanya dillah padaku.
“gapapa.. Udah ahh yu lari!” jawabku.

Gara gara kejadian tadi pagi, aku jadi kepikiran terus tentang ikhwan misterius itu. Membuat aku bingung, kok kalimatnya itu sama seperti yang ada dalam mimpiku dan aku pun belum sempat mengetahui namanya.



Seiring waktu berjalan, tak terasa hari libur pun terlewati. Segera ku mengistirahatkan diri untuk esok hari. Sebenarnya saat itu aku susah tidur, karena bayangan dan suara ikhwan itu masih terdengar di telingaku.

Sepertinya aku sangat penasaran pada ikhwan itu. Tetapi mau bagaimana pun harus kupaksa pejamkan mata agar aku bisa tertidur.

“ratihhh…”
“ratiihhh…”

Ada seseorang yang memanggil namaku. Saat kubuka mata, entah dimana aku.. Tak ada satu pun orang bahkan benda pun tak ada di ruangan itu. Ruangan itu sangattt luas, dinding dan lantai nya berwarna putih. Putih dan kosong. Aku pun menengok ke kanan, kiri, depan dan belakang tetapi tak ada satu pun orang.

“ratihh.. Tih.. Tih..”
“lain kali.. Hati hati yaa.. Ya.. Yaa..”
Suara itu pun terdengar lagi dan sangat menggema. Aku merasa gelisah dan seperti dihantui oleh ikhwan itu.
“kumohon.. Jangan ganggu akuu” kujawab semua panggilan itu.

Tiba tiba ikhwan itu menampakkan dirinya. Aku pun sangat terkejut. Ikhwan itu seperti menghampiriku tetapi aku mencoba menghindarinya.. Kulangkahkan kaki ke belakang.. Mundur.. Mundur.. Dannn… Bruukkkk!!

“aduhhhh..” kubuka mataku dan saat itu aku berada di kamar tidur. Aku terjatuh ke lantai dari tempat tidurku.
“Astaghfirullah.. Ternyata tadi cuma mimpi” dengan mata yang masih mengantuk aku pun melihat jam dinding. Waktu telah menunjukkan sepertiga malam. Kulangkahkan kakiku untuk sholat tahajjud supaya aku lebih tenang.

Hari senin…
Waktu dimana aku malas berdiri hampir satu jam lebih dan terdiam tanpa khayalan. Terlihat fokus, padahal sedang memejamkan mata karena pusing.

“ehhhh. Ehh.. Ehhhh” terdengar suara dari beberapa siswi yang ada di sekelilingku dan aku pun tak sadarkan diri.

Saat kubuka mataku, aku terbaring di uks.. Sepertinya tadi aku pingsan. Kepalaku cukup pusing, mungkin karena aku banyak pikiran dan belum sarapan.

Setelah upacara selesai, dillah menjenguk aku di uks.
“ratihh.. Kamu gapapa? Ya ampun..” tanya dillah khawatir.
Aku pun duduk dan menjawabnya dengan senyum. Badan lemas membuat aku sulit bergerak melangkahkan kaki untuk ke kelas.

“kamu pulang aja yaa ratih..” dillah malah menyuruhku pulang.
“engga dil.. Hari ini ada pelajaran matematika jadi sekarang aku mau ke kelas aja” jawabku.
“tapiii kamu yakin..? Kamu kuat?”
“insyaaallah dil..”
“ya udah yuu.. Aku bantu kamu jalan ke kelas yaa” sambil membantuku untuk berdiri. Dan aku pun belajar ke kelas.



Setelah pelajaran pertama usai, guruku menyuruh untuk membawakan buku yang baru saja dikumpulkan. Dengan badan yang masih lemas, aku pun membawa buku itu ke ruang guru dan aku pun kembali ke kelas.

Tetapi saat melewati masjid, (degh..) aku bertemu ikhwan itu. Ikhwan yang selalu membuat aku terdiam dan langsung menundukkan pandanganku. Kuberjalan begitu cepat agar dia tak melihat adanya aku.

Tiba tiba saja..
“assalamu’alaikum ukhti..” ikhwan itu menyapaku dengan salamnya. Aku merasa sangat terkejut. Tanganku seketika dingin dan aku pun segera menjawab salam itu dengan tersenyum gugup.
“waalaikumussalam..”
“emm.. Boleh saya tau nama ukhti?” tanya nya dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
(aduhh mau apa sih tau nama aku..) bisikku dalam hati dengan wajah yang khawatir.

“ukhtii??” ikhwan itu menyadarkan ku.
“ehh iyaa.. Boleh” jawabku dengan sedikit rusuh. Ikhwan itu pun tertawa kecil melihatku.
“jadi nama ukhti? Siapa?”
“nama? Ohh nama? Nama saya ratih” aku merasa begitu gugup saat itu.
“ohh ratih.. Afwan yaa ratih. Bisa kita bicara sebentar?”
“iyaa silahkan..” dengan wajah yang cemas dan hati yang tidak karuan aku pun duduk di kursi.

“emm.. Begini ukhti. Ukhti teman sekelas nya dillah kan?” tanya ikhwan itu dengan lembut.
“iyaa betul.. Memangnya ada apa yaa?” tanya ku penasaran.
“saya ingin minta tolong pada ukhti untuk memberikan surat ini pada dillah” ikhwan itu menyodorkan sepucuk surat putih polos.
Dengan raut wajah yang penasaran, aku pun mengambil surat itu.
“baiklah akhi.. Saya akan sampaikan surat ini pada dillah” aku pun tersenyum dengan hati yang kecewa.
“jazakillah ukhti.. Assalamu’alaikum” ikhwan itu pun langsung pergi tanpa memberitahu namanya.
“waalaikumussalam..” aku pun masih terdiam di kursi itu.

‘Mengapa ikhwan itu memberi dillah surat? Apakah ikhwan itu menyukai dillah?’ Dengan mata yang penuh tanda tanya. Aku pun menepis pertanyaan dalam benakku.

Aku pun segera kembali ke kelas dan memberikan surat itu pada dillah.
“nihh..” aku memberikan surat itu dengan raut wajah yang murung.
“apa ini? Surat? Siapa yang sakit?” tanya dillah.
“ga ada yang sakit. Ada ikhwan yang nitip surat itu untuk kamu. Baca aja!” dengan nada suara yang bete.
“emm.. Okey!” dillah pun membaca surat itu dengan serius. Seketika kelas menjadi hening.

“Astaghfirullah…” semua anak langsung menengok ke arah dillah.
“ehh.. Maaf maaf” dillah meminta maaf karena telah mengagetkan mereka.
“kenapa dil? Ada apa?” tanyaku penasaran.
“enggaa.. Ga ada apa apa kok.” dia tersenyum dan memalingkan wajahnya.
“kamu ga akan berbagi cerita gitu sama aku dil?” sambil membuka buku.
“belum saatnya kamu tau” seketika mata melihat ke arahnya. Dillah melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam tas dan aku pun terdiam heran.

Hari ke hari dillah jadi berubah. Dia jadi sering pulang duluan dan ke kantin sendirian. Aku bingung kenapa dia jadi seperti itu.
Sampai disuatu ketika aku benar-benar penasaran. Aku pun berniat mengikuti dia saat jam istirahat.

Click to comment