Putri





Alkisah dalam zaman dahulu kala saat pulau Andalas dipimpin Sultan Kuta yg telah tua renta, negeri tadi sering mendapat gangguan dari makhluk super besar bernama Kleng.
Setiap kali makhluk itu datang perawakannya semakin akbar & menakutkan serta menciptakan kerusakan semakin parah pada negeri tersebut, hilangnya mal, hilangnya ternak bahkan korban jiwa semakin poly. Sultan yang tua renta nir bisa berbuat apa-apa, hanya membantu rakyatnya yang tersisa dengan bantuan seadanya sesudah makhluk itu pulang.
Sultan Kuta mempunyai putra bernama Muda, seseorang pemuda yang cerdas, tampan & pemberani . Banyak saudagar dan pengelana bergaul baik dengan Sultan Kuta & putranya.

Sampai pada suatu hari datanglah seseorang pengelana menurut Negeri Barus yang prihatin dengan kondisi negeri tersebut. Beliau adalah teman berdasarkan putra Sultan Kuta.
Pada jamuan makan malam di istana pengelana menanyakan syarat Sultan & negerinya, maka sultan menceritakan semua insiden yg dialami negeri ini kepada pengelana tersebut.
“Hamba dengar makhluk misalnya itu hanya bisa diusir oleh naga!” kentara Sang Pengelana.
Sultan mengerutkan keningnya memikirkan ucapan pengelana itu.
“Tidak ada naga di negeri ini, saya sendiri belum pernah melihatnya,” jelas Sultan Kuta.
“Kalaupun terdapat hanya cerita para saudagar menurut Rum, syahdan katanya naga hanya terdapat di negeri hujan yang mana air disana tak jarang membeku sebagai batu,” sambung Sultan sambil mengingat-ingat cerita para saudagar bekulit putih yang acapkali mampir di negeri Andalas.
“Hamba sedang menuju Negeri Kuning, hamba dengar di zenit gunung tertinggi di Negeri Kuning tadi, yang merupakan atap dunia, tinggalah kawanan naga, tapi jumlahnya sudah tidak banyak lagi,” lanjut Pengelana.
“Hamba punya seorang teman yg asal dari tempat itu, beliau seorang laksamana pada Negeri Kuning. Bila Sultan berkenan saya akan meminta bantuannya buat mendatangkan naga tadi,” Pengelana menunjukkan solusi pada Sultan Kuta.

Beberapa hari lalu setelah mengisi perbekalan buat kapal lautnya Sang Pengelana meninggalkan negeri tersebut untuk melanjutkan perjalanan ke beberapa negeri lain sebelum akhirnya hingga di Negeri Kuning.



Beberapa bulan lalu Kleng tiba balik  & memporak porandakan negeri tersebut & jua mengakibatkan wafatnya Sultan Kuta.
Maka sesudah makhluk itu pergi diangkatlah putra Sultan Kuta menjadi Sultan Negeri Andalas. Sejak itu Sultan Muda memimpin Negeri Andalas.
Sultan Muda bertekad akan mengalahkan Kleng, makhluk raksasa yang sudah menyengsarakan masyarakat Negeri Andalas.

Setahun lebih lamanya Sultan Muda menunggu sahabatnya Sang Pengelana & telah sebulan ini Sultan kerap berdiri pada dermaga pelabuhan mempelajari kapal-kapal yang bersandar. Hinga pada suatu malam seorang prajurit datang menyampaikan informasi gembira akan kedatangan 2 butir kapal yg terlihat dari kejauhan menuju pelabuhan diikuti sesuatu pada belakangnya.
Maka Sultan mengumpulkan semua menteri & pejabat buat mengungkapkan liputan gembira akan kedatangan seekor naga yg akan menghalau Kleng si makhluk super besar.

Pagi harinya rombongan kapal Sang Pengelana berlabuh di dermaga & seekor naga super besar mengiringi mereka pada belakang.
Pengelana kemudian mengenalkan kepada Sultan Muda seseorang laksamana dari Negeri Kuning yg akan tinggal beberapa bulan pada Negeri Andalas beserta naganya buat menghalau Kleng jika makhluk super besar itu tiba menyerang.

Sejak kedatangan naga tersebut Negeri Andalas sebagai aman sentosa lantaran naga tersebut berhasil menghalau Kleng setiap kali menyerang Negeri Andalas. Semakin usang semakin jarang makhluk raksasa itu mengganggu, bahkan makhluk itu sepertinya jeri menghadapi naga sampai akhirnya nir pernah tiba lagi.

Naga yang dibawa laksamana adalah naga betina & sehabis beberapa bulan tinggal pada negeri Andalas naga tadi bertelur sebesar 2 buah.
Belum genap setahun keberadaan laksamana pada negeri andalas datanglah utusan berdasarkan Negeri Kuning buat menyampaikan pesan menurut Raja Negeri Kuning supaya laksamana mereka segera balik  ke Negeri Kuning karena Negeri Kuning sedang menghadapi penyerangan dari negeri tetangganya.
Laksamana tidak mampu membawa serta telur naga tersebut karena akan sangat berbahaya selama dalam bepergian pulang ke Negeri Kuning. Maka diputuskan telur naga tersebut ditinggalkan di negeri Andalas hingga menetas & laksamana akan datang lagi menjemput anak naga itu kelak.

Sebelum berangkat laksamana memberi pesan pada Sultan Muda agar meletakan kedua telur naga pada dapur dekat tungku mengolah sebagai akibatnya telur selalu hangat dan nanti setelah telur itu menetas agar bayi naga diberi makan ikan segar yang masih hidup sebagai akibatnya hingga dewasa nanti naga tersebut akan memakan ikan misalnya induknya. Lantaran kuliner pertama yang dimakan bayi naga akan menjadi makanannya hingga beliau dewasa, beliau tidak akan makan kuliner lain. Berulang kali laksamana mewanti-wanti Sultan agar bayi naga nir diberi daging dari fauna ternak karena kelak beliau akan sebagai pencuri ternak atau pemburu fauna liar pada hutan dan itu akan bikin capek Sultan Muda.
Setelah seluruh perbekalan dimasukkan ke kapal maka berangkatlah laksamana berdasarkan Negeri Kuning diiringi naganya.

Sejak itu negeri Andalas telah sebagai negeri yg kondusif sentosa, Kleng si makhluk raksasa tidak pernah tiba lagi.
Kemudian Sultan Muda menikahi seseorang putri menurut Negeri Lingga, mereka hidup bahagia.

Setahun kemudian Sultan Muda bersiap menyambut kelahiran anak pertamanya, asumsi tabib yg akan lahir adalah seorang putri. Seluruh kerajaan berbahagia menyambut hari kelahiran tadi.
Tidak lupa setiap malam sebelum berangkat tidur Sultan turun ke dapur mengusut kondisi dua buah telur naga yg ketika menetasnya juga telah dekat sinkron asumsi yang disampaikan laksamana berdasarkan Negeri Kuning dahulu.

Hingga suatu malam terjadilah kesibukan di istana lantaran sang putri akan segera lahir ke dunia. Tiada seorangpun menyadari telur naga yang mulai retak tanda akan menetas lantaran semua orang di istana sibuk menyiapkan kelahiran putri Sultan Muda.

Tepat saat proses bersalin istri Sultan kedua telur naga jua menetas, dimulai menurut telur pertama menetaskan seekor bayi naga yang gagah, bayi naga tersebut merayap ke lantai dapur istana & didapatinya karung beras yg terbuka dan butiran-butiran beras yang berserakan yang belum sempat dibersihkah juru masak istana kemudian bayi naga memakan beras itu. Tak usang lalu telur keduapun menetas & seperti abangnya bayi naga ini juga turun ke lantai dapur namun kearah tungku masak yg terdapat kuali akbar buat menanak nasi & dia menyenggol kuali tersebut sampai jatuh dan menumpahkan nasi pada dalamnya, naga mungil itu segera melahap nasi yang berserakan tadi.

Menjelang subuh lahirlah sang putri ke global, Sultan sangat senang  dan pengurus istanapun ikut bahagia & jua lega. Menjelang fajar juru masak turun ke dapur dan kaget menemukan dapur yg berantakan dan hampir kelenger melihat dua ekor makhluk sedang menyantap beras dan nasi.
Sultan segera ke dapur dan mengamankan kedua bayi naga tersebut.

Negeri Andalas sedang bersuka cita dengan kelahiran oleh putri dan ke 2 bayi naga, dikemudian hari putri tersebut lebih dikenal menggunakan sebutan Putri Naga lantaran tumbuh akbar bersama kedua anak naga. Sedangkan kedua naga diberi nama Beras dan Nasi sesuai menggunakan makanan yg mereka makan.



Enam bulan lalu datanglah laksamana menurut Negeri Kuning, sesuai janjinya dahulu akan membawa pergi kedua anak naga. Tetapi Laksamana sedikit kecewa karena ternyata anak naga tadi diberi makan beras & nasi.
Lalu Sultan menyebutkan insiden di malam menetasnya telur naga tersebut, akhirnya Laksamana bisa memahami.

Saat akan dinaikkan ke kapal sang Laksamana kedua naga menolak pergi mereka berusaha melepaskan diri lalu belari ke hutan. Penduduk pula keberatan laksamana membawa pergi kedua naga tersebut apalagi induk naga telah usang meninggal sebagai akibatnya tidak ada alasan membawa naga tadi.

“Saya ingin membawa ke 2 naga ini, pada suatu ketika keduanya akan membuat repot Sultan & masyarakat lantaran semakin besar  mereka akan membutuhkan makananan semakin banyak,” alasan laksamana.
“Biarkan aku  memulangkan mereka ke zenit gunung loka dari naga tersebut, izin mereka mampu mengikuti keadaan dengan naga lainnya yang jua tinggal sedikit jumlahnya disana,” kentara laksamana.
Tetapi penduduk kota keberatan dan menyatakan kesanggupan mereka memberi makan kedua naga.
“Baiklah jika begitu, saya akan meninggalkan mereka disini dan aku  akan pulang setahun lagi, apabila kalian berubah fikiran aku  bersedia mengembalikan mereka ke asalnya namun selesainya umur mereka bertambah, tubuh mereka semakin besar  dan kekuatan mereka semakin akbar pula maka saat itu sulit bagi aku  memulangkan mereka tetapi saya selalu bersedia membatu Sultan dan negeri ini,” jelas Laksamana.

Seperti janjinya setahun kemudian Laksamana tiba kembali tetapi penduduk kota tetap mempertahankan ke 2 naga maka sejak itu Laksamana menurut Negeri Kuning nir pernah lagi datang.

Negeri Andalas adalah negeri yg makmur dianugrahi tanah yang fertile sehingga hasil panen melimpah, mereka bisa memberi makan ke 2 naga apalagi putri sultan sangat sayang kepada kedua naga. Tetapi semakin akbar naga tersebut membutuhkan kuliner semakin poly apalagi keliru satu berdasarkan mereka hanya mau makan beras & naga ke 2 hanya makan nasi.

Hingga dalam usia putri Naga tujuh belas tahun terjadilah kemarau yg panjang di Negeri Andalas, output panen poly yang gagal sebagai akibatnya persediaan padi semakin menipis. Beberapa penduduk mulai mengeluh dengan eksistensi ke 2 naga yg banyak menghabiskan persediaan beras mereka. Pada puncaknya ramai-ramai penduduk mendatangi istana & meminta sultan mengembalikan ke 2 naga ketempat asalnya.
Putri Naga sedih mendengar permintaan rakyatnya, demikian juga Sultan bersedih karena beliau sudah menganggap ke 2 naga tersebut misalnya anaknya. Namun Sultan nir kuasa menolak permintaan rakyatnya.
Maka Sultan mengirim seseorang utusan ke Negeri Kuning buat menemui Laksamana supaya mau memulangkan ke 2 naga tadi.

Beberapa bulan kemudian Laksamana dari Negeri Kuning hingga pada Negeri Andalas dan takjub menggunakan tubuh ke 2 naga yg gagah.
“Rakyat Tuan sudah memelihara mereka dengan baik,” kata Laksamana sembari memperhatikan ke 2 naga yg sedang bermain dengan putri Sultan.
“Beberapa tahun lagi kedua naga ini akan menyamai tubuh induknya,” tambah Laksamana
“Keadaan kami semakin buruk lantaran kemarau panjang ini, rakyat meminta supaya ke 2 naga dikembalikan ke asalnya,” kentara Sultan.
“Saya akan coba membujuk kedua naga namun kalau mereka tidak mau ikut kita nir bisa memaksa,” sambung Laksamana sambil berfikir keras.

Sudah seminggu Laksamana bersama Sultan & Putri Naga meminta kedua naga ikut pulang ke Negeri Kuning, awalnya kedua naga menolak namun menggunakan kasih sayang Putri Naga akhirnya ke 2 naga bersedia pergi menggunakan berat hati.

Pagi yg mendung mengiringi embarkasi laksamana & kedua naga, menggunakan meniti air mata ke 2 naga menggunakan berat hati berpisah dengan Putri Naga. Putri Naga tidak sanggup menunda tangisnya melihat ke 2 saudaranya pulang meninggalkannya.

Beberapa mil kapal belayar meninggalkan Negeri Andalas datang-datang penduduk Negeri Andalas dikejutkan dengan gempa bumi dahsyat. Penduduk melihat ke arah laut dan misalnya yang ditakutkan air bahari surut jauh kelaut, seketika orang-orang berteriak ketakutan akan datangnya Kleng si makhluk raksasa.
Orang-orang berlarian ke arah gunung buat bersembunyi dari amukan Kleng, terjadi kepanikan dimana-mana.
Semantara itu berdasarkan tengah bahari Nasi dan Beras melihat makhluk hitam jauh pada arah barat mereka, yang sedang menuju Negeri Andalas.
Mereka merasa ada bahaya yg akan menerjang negeri Andalas, maka keduanya berputar haluan balik  ke Negeri Andalas buat memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Sesampai pada ujung Negeri Andalas mereka melihat sosok makhluk raksasa hendak menyerang Negeri Andalas, mereka eksklusif teringat akan cerita Kleng si makhluk super besar yg pernah dikalahkan induk mereka.
Dengan gagah berani ke 2 naga itu menghadang Kleng persis pada bahari pada ujung Negeri Andalas.

Sesaat Kleng berhenti.
“Kalian putra dari naga besar  yang melawanku dahulu?” Tanya Kleng.
“Kami akan mengalahkanmu seperti induk kami mengalahkanmu!” Sahut Naga Beras.
“Kalian selalu menghalangiku!” Bentak Kleng tersebut sambil menyerang ke arah Naga Beras. Dengan cepat Naga Nasi menerjang Kleng. Pertarungan di laut di ujung Negeri Andalas berjalan seimbang.

Putri Naga yang melihat kedua saudaranya itu pribadi berlari kencang ke ujung negeri buat mendekati kedua naga yg bertarung melawan makhluk raksasa. Pengawal nir sanggup mengimbangi putri berlari, mereka berpacu ke ujung negeri Andalas, sesampai pada ujung negeri putri eksklusif melompat ke laut buat mendekati loka permasalahan tetapi gelombang laut yg terjadi lantaran konflik itu menciptakan putri terhempas ke sebuah karang pada tengah laut. Beberapa kali putri mencoba namun pulang terhempas ke karang tadi. Akhirnya putri menyaksikan permasalahan saudaranya berdasarkan atas karang tersebut sedangkan prajurit tidak bisa berenang ke karang tersebut lantaran gelombang laut selalu menghempas mereka ke pantai.

“Tuan Putri! Tuan Putri! Tuan Putri!” Teriak prajurit berdasarkan pantai karena khawatir dengan keselamatan Putri Naga.
Tapi Putri Naga tidak peduli dan terus menerus berteriak memanggil nama kedua saudaranya yang sedang bertarung.
Pertarungan itu berjalan usang pada bahari, tidak terdapat indikasi-pertanda akan ada yang menang. Kedua naga telah terluka parah demikian pula dengan Kleng. Rasa lapar membuat Kleng nir mundur menurut permasalahan ini apalagi kekuatan kedua naga belum sebanyak induknya.

Menjelang malam akhirnya makhluk super besar itu mundur menurut konflik & melarikan diri menggunakan luka parah yg dialaminya. Sedangkan kedua naga terluka parah & kehabisan energi.

“Kemarilah Beras! Kemarilah Nasi!” Teriak Putri Naga memanggil ke 2 naga.
“Biarkan kami disini Putri Naga! Kami khawatir Kleng akan menyerang balik ! Kami akan tetap disini menjaga Negeri Andalas ini!” Teriak Naga Beras.
Kedua naga tersebut berpelukan kemudian mereka terjerebab pada bahari. Putri Naga monoton berteriak tapi ke 2 naga sudah tidak berkecimpung. Luka-luka yang parah menciptakan mereka tidak bertahan.

Setelah kejadian tersebut kapal Laksamana datang mendekati putri Naga & membawanya ke tubuh saudaranya yang sudah gugur.
Putri Naga menangis terus menerus melihat tubuh kedua naga tadi.
Saat tubuh ke 2 naga tersebut akan dibawa ke darat oleh Sultan Muda, Putri Naga membicarakan pesan terakhir dari keduanya supaya dibiarkan disana buat menjaga Nageri Andalas.

Maka semenjak itu Putri Naga sering mengunjungi tubuh kedua naga yg usang kelamaan ditumbuhi semak belukar & sebagai 2 butir pulau yg indah bernama pulau Nasi dan pulau Beras yang selalu setia menjaga Negeri Andalas menurut serbuan gelombang raksasa yg sekali waktu datang menerjang. Kawasan loka Putri Naga berlari dianggap Ujong Pancu, sedangkan gudukan karang di tengah laut yg menjadi loka Putri Naga berdiri melihat saudaranya berjuang dinamakan pulau Tuan yang masih berdiri menggunakan gagahnya sampai sekarang & bisa pada lihat berdasarkan pantai Ujong Pancu.

Ujong Pancu pada anugerahi alam yang latif, gunung, pantai dan alam bawah laut yang sangat indah di kurang lebih pulau Tuan, demikian juga pulau Nasi & pulau Beras mempunyai estetika alam yang luar biasa, gampang-mudahan tidak ada lagi Kleng-Kleng masa sekarang yg merusaknya

Click to comment