Rasanya Punnya Pacar Volume 1



Matahari mulai memperlihatkan cahayanya, cahaya yg sangat aku  sukai tiap pagi, Udara yg segar membuat aku  selalu setia berjalan kaki pulang sekolah setiap hari, rasa lelah dan sedihku akan hilang waktu aku  menatap cahaya surya yg masih malu-membuat malu buat keluar itu.

Jarak rumahku ke sekolah hanya membutuhkan saat 20 menit dengan berjalan kaki dan aku  selalu menjadi murid pertama yang tiba pada sekolah walaupun jalan kaki aku  tidak pernah telat setidaknya buat ketika ini. Hehehe, kan kita nggak tau besok.

Brem brem bremmmmm datang-tiba sebuah motor mendekat ke arahku, dan aku  hampir saja tertabrak, aku  sangat kesal karena tidak hanya kaget bajuku pula kotor kena cipratan air oleh motor ninja merah yg hampir menabrakku tadi,
“hahaha terdapat ya orang jalan kaki pulang sekolah?” kata pengendara motor tersebut dengan senyum sinis di wajahnya, amanah saja saya sangat kesal padanya, ingin sekali aku  merobek paras tampannya itu dengan pisau yang sangat tajam, opss kok jadi bilang beliau tampan sih. Bukannya minta maaf laki-laki  itu malah meledekku, dasar insan tidak punya hati beliau, aku  menajamkan tatapanku padanya supaya dia memahami aku  sedang murka , karena poly orang bilang mata besarku akan sangat seram bila murka , padahal biasa saja menurutku.
“hahaha lo pikir gue takut sama mata lo itu” tawanya semakin pecah, lalu saya lihat pada dekatku terdapat lumpur, & saya mengambilnya lalu aku  lumuri dalam motor pria arogan itu,
“bhahahaha rasain, beraninya sama cewek, nggak minta maaf lagi” ucapku & pria itu menatapku dengan tatapan aneh,
“gue pikir lo bisu, taunya mampu ngomong, tapi nggak papa kali ini lo gue maafin karena udah ngotorin motor gue” ujar laki-laki  itu, memang dari tadi aku  hanya membisu saat pria itu meledekku.
“tapi gue senang liat lo tertawa, sangat anggun. Sampai jumpa di sekolah ya cewek aneh, daaaahhh” ujar pria itu meninggalkan aku  dengan suara bising motornya.



Lalu aku  melanjutkan jalan & saya baru sadar seragamku kotor, hari ini kan upacara masa gunakan baju kotor gini, huh sudahlah lanjut saja jikalau kembali lagi ke tempat tinggal   bisa telat, tiba-tiba saya kepikiran sama laki-laki  tersebut, beliau lucu banget motornya dikotorin akan tetapi nggak marah, ah udahlah mungkin dia tau salah , tangan aku  juga kotor lagi.

“Aza! Tunggu” teriak seorang memanggilku, aku  menoleh & saya berhenti di pos satpam sekolahku,
“assalamualaikum aza” sapa mili padaku,
“waalaikumsalam” jawabku menggunakan senyum termanis,
“tumben tiba telat?” tanya Mili
“terdapat 15 mnt lagi kaliii Mil” balasku
“hehehe iya, maksudku kenapa tiba jam segini, umumnya kamu selalu ngambil tugas Pak Ahmad bukain gerbang” ujar Mili
“hahaha bisa aja kamu, hari ini aku  lagi bisa musibah” jawabku, kemudian kami berjalan menuju kelas dan aku  menceritakan insiden tersebut pada Mili, sahabatku.

Oh iya, aku  belum cerita mengenai bioku. Aku Azzahra Adnan, biasa dipanggil Aza, umurku 2 bulan lagi 17 tahun, saya lahir pada Bukit tinggi dalam bulan Juni tepatnya tanggal 6. Aku anak berdasarkan Pak Adnan dan Bu Maira, sekarang kami menetap di Bandung karena itu adalah daerah berasal ayah, & bunda dari Sumatera, saya si bungsu menurut 3 bersaudara, & aku  satu-satunya anak wanita, kalian tahu aku  sangat dimanjakan. Kakakku yg pertama namanya Alfariz Adnan kini   lagi kuliah semester 6 di Manajemen UI, beliau sangat mengayomi saudara termuda-adiknya juga pembela saya jikalau lagi berantem sama kakakku yg kedua, akan tetapi sekarang dia lagi jauh sama lantaran harus kuliah akan tetapi setiap beliau pergi kami selalu menghabiskan waktu bersama, & yg ke 2 namanya Alhafiz Adnan dia hanya beda 1 tahun denganku dan satu sekolah, dia merupakan musuhku jikalau di tempat tinggal   tapi pada sekolah beliau pahlawan bagiku, beliau sering murka  padaku lantaran selalu menolak berangkat ke sekolah beserta menggunakan motor ninja kesayangannya. Bukan apa-apa beliau itu berangkat sekolah jam 7.20 padahal masuk 7.30 & aku  kan ingin menikmati sunrise, sekarang kak Hafiz lagi sibuk mempersiapkan diri mau masuk Perguruan Tinggi Negeri seperti kak Fariz.

“Nah udah tidak mengecewakan bersih ni” ujar Mili selesainya selesai membersihkan seragamku,
“makasih Mili” kemudian aku  peluk Mili, dan waktu kami berjalan meninggalkan toilet, saya nggak sengaja menabrak seorang dan saya nginjek handphonenya,
“aduh maaf ya kak nggak sengaja, hpnya jadi rusak nih” ujarku cemas sembari mungut hp orang itu, dan ketika aku  menaruh hp pada orangnya lagi, kalian tahu siapa orang itu. Ya dia, laki-laki  arogan yg bikin baju saya kotor,
“kita ketemu lagi ya cewek aneh, emang jikalau jodoh nggak kemana? Soal hp damai aja” ujar pria itu, padahal saya cemas banget jikalau dia minta ganti rugi lantaran hpnya mahal banget harganya fantatis karenanya keluaran modern
“makasi” jawabku gugup
“nanti gue kabarin lagi berapa lo wajib  ganti rugi, oke?”
“hah?” saya tercengang, saya pikir beliau nggak akan minta ganti rugi
“lo tau, hp gue baru jadi nggak mungkin gue relain gitu aja, dan ya, tersebut lo manggil gue abang ya? Lucu jua” ujar laki-laki  sombong itu, hah, entah mimpi apa aku  semalam sampai harus bertemu menggunakan manusia nir punya hati macam dia, saya hanya bisa diam dan Mili yang beliau lakukan hanya menatap pria arogan ini, oh Mili tolong jangan suka  sama dia, ujarku pada hati
Dengan kesal dan murka  aku  pulang ninggalin Mili yang masih memandang pria itu.
“Aza tungguin saya” teriak Mili yang tak saya hiraukan.

“kak hafiz!” teriakku
“iya, terdapat apa?” jawab kak hafiz ketika beliau di parkiran sama sahabat-temannya
“pergi bersama ya?” ujarku
“oh, saudara tertua pikir engkau  pulang sama Mili lantaran engkau  nggak nemuin abang tadi pada kelas” balas kak hafiz
“lagi enggak kak, ayo!” ajakku
“eh tunggu, abang mau nongkrong dulu sama sahabat saudara tertua, udah lama   nggak ketemu nih” istilah kak hafiz
“ya udah saya jalan aja” jawabku kecewa padahal lagi capek banget
“hmm kamu ikut aja? Kami cuma berdua kok, dan kamu juga belum kenalan sama temen saudara tertua yang satu ini?”
“yang mana orangnya?” tanyaku
“oh lagi pada kelas kayaknya, nah itu dia” kata kak Hafiz sambil nunjuk ke arah lapangan basket, saya menoleh ke arah tunjuk kak Hafiz
“oi bro, lama   amat?” tanya kak Hafiz dalam temannya yg sudah buat hariku rusak
“terdapat perlu tersebut, ini siapa?” tanyanya nunjuk aku  seolah nir pernah bertemu
“oh ini, saudara termuda gue namanya Aza” kata kak Hafiz memperkenalkan aku  pada temannya itu
“hmm Alan, Alan pradipto” ujarnya sembari menyodorkan tangannya padaku buat bersalaman
“Aza” ucapku lirih tanpa menyambut salamnya kemudian menggunakan cepat ia menarik tangannya balik
“oiya Lan adik gue ikut kita ya?” tanya kak hafiz pada Alan
“oh boleh” Alan melirik ke arahku
“saya pergi aja deh kak, nggak enak jadi merusak  kalian” ujarku
“jangan, ikut kami aja” larang si Alan sok manis padaku
“iya dek, ikut aja” ujar kak Hafiz lalu menarik saya naik ke motornya

Sudah kuduga ini akan sangat membosankan aku  hanya duduk membisu mendengarkan mereka bicara yg sama sekali nir saya mengerti karena memang saya nggak peduli apa yang mereka bicarakan, & kalian tahu si Alan itu selalu mencuri pandang ke arahku, jujur aja saya risih dan yang buat saya semakin bete merupakan dia sok cantik denganku mungkin karena terdapat kak Hafiz.

Semenjak Alan hadir dalam hidupku, cita rasanya nir lagi menyenangkan, Mili jadi sibuk mencari informasi tentang si Alan & parahnya lagi para pengagum Alan di sekolah banyak yg tidak menyukaiku, karena saya pernah jalan bersama si Alan lantaran kak Hafiz nyuruh Alan nganter saya pulang, histeria penggemer Alan membuat saya muak ditambah lagi Mili setiap hari membahas mengenai Alan, ah ingin sekali saya bilang pada Mili “BODO AMAT GUE NGGAK PEDULI!!!” tapi mengingat Mili merupakan sahabatku jadi aku  diam aja,

“Aza kamu tau nggak kak Alan yg anak baru itu pula jago main basket & waktu beliau senyum sama saya ah cita rasanya global ini milik saya” ujar Mili
“hmm” aku  hanya menjawab singkat
“Dan kak Alan jua senang lagunya My chemical romance sama kayak kamu, kayaknya kalian jodoh deh”
“Apa???” saya hingga tersedak mendengar Mili berkata itu
“iya, jodoh” ulang Mili
“NGGAK AKAN! KAMU TAU AKU TIDAK AKAN MAU SAMA DIA. TITIK” teriakku dalam Mili yang menciptakan orang-orang di kantin melihat ke arah kami, maksudku ke arahku
“Hati-hati nanti ke makan omongan sendiri, baru tau rasa! Aku sih nggak apa apa kalau Kak Alan mau sama engkau ” ucap Mili yg membuat saya merasa geli plus jijik

Hari ini aku  sedang tidak mau ke kantin, & Mili hari ini juga tidak masuk lantaran sakit mungkin karena berdebat denganku kemarin. Hehehe, saya memilih membaca buku ke perpustakaan yg menurutku cocok buat menenangkan pikiran, saya masih gundah wajib  gimana ganti rugi hp Alan, beliau kemarin menemuiku waktu pergi dan bilang bahwa hpnya sudah diperbaiki dan aku  harus membayar 3 juta buat itu, aku  diberi ketika tiga hari buat membarui. Aku gundah apa semahal itu memperbaikinya, padahal layarnya cuma retak dikit, dia sih bilang LCDnya juga rusak, entahlah saya tidak mengerti dengan itu.

“hai, boleh duduk pada sini?” tanya seseorang padaku dan sepertinya saya mengenal suara itu,
“ya, silahkan” balasku
“apa uangnya udah relatif?” tanyanya
“belum” tanpa mengalihkan pandangan pada kitab   yang kupegang
“tidak perkara bila kau tidak mau membayarnya, aku  sanggup memberitahu Hafiz buat membayarkannya?” saran Alan yg membuatku shock karena itu akan memberiku perkara seumur hayati, kak Hafiz tidak akan berhenti mencelaku jika ia memahami soal ini
“jangan! Aku akan membayarnya, terdapat waktu dua hari bukan?” ujarku menggunakan cemas
“makanya bila jalan itu hati-hati, untung gue yg lo tabrak coba kalau yg lain, nggak akan dimaafin lo” ucap Alan sembari membaca kitab   yg beliau bawa tersebut, walaupun aku  yakin ia nir sedang membaca.

Click to comment