Seindah Edelweis

Saat turun dari bus, Bu Rini mendapat kabar dari pihak Lion, bahwa penerbangan harus ditunda selama dua hari dikarenakan ada beberapa masalah yang melanda maskapainya. Dan kami harus dialihkan ke sebuah penginapan haji yang tak jauh dari bandara untuk beristirahat seraya menunggu jemputan dari pihak maskapai.

Di perjalanan aku duduk sendiri di bus sambil mengelus bunga Edelweis yang kupetik sendiri di Merapi dan mengikatnya dengan tali kur agar bunga tersebut terlihat rapih dan indah. Tak lama kemudian terdengar olehku suara hentakan kaki dari arah belakang yang sepertinya ingin menuju ke depan, yang tak lain adalah Dea.
“Sendirian aja Dit? Mau ditemenin ngga?” tanya Dea.
“Eh kamu De, boleh-boleh. Duduk aja” ucapku dengan sedikit gugup.
“Bunganya bagus lho. Untuk siapa dit?” tanya Dea lagi.
“Hmmm. Cuman untuk koleksi kok.” ucapku lugas.

Dea adalah perempuan yang aku sukai. Senyuman yang khas, dan tatapan yang tajam seperti menusuk nusuk retina, menjadi daya tarik sendiri bagiku untuk menyukainya. Namun dibalik itu, Dea juga seorang yang cuek. Kecuekannya inilah yang sering menjadi masalah untuk mendekatinya. Dulunya aku pernah mempunyai hubungan tanpa status dengannya, tetapi entah mengapa Dea tidak pernah menghubungiku lagi, sehingga aku pun bingung untuk meninggalkannya atau bertahan menunggu keajaiban datang.



Jantungku berdegup setiap Dea berada di sampingku. Aku berusaha mengatur setiap tarikan dan hembusan nafasku agar dea tidak mengetahuinya. Sesampainya di penginapan haji. Aku dan teman-temanku langsung mengambil koper dan bergegas melangkahkan kaki menuju kamar yang telah disediakan, untuk beristirahat. Namun betapa terkejutnya kami saat mengetahui jika satu kamar berisi empat belas orang. Nampak muka teman-temanku yang letih bercampur emosi. Banyak kata-kata yang tak senonoh keluar dari mulut mereka untuk meluapkan kekesalannya. Tapi apa boleh buat, mau tidak mau, suka tidak suka. Kami harus tetap beristirahat di kamar yang siap dihuni empat belas orang dengan bau yang semerbak.
Dika yang tampak sangat resah dan gelisah dengan keaadaan kamar tersebut, mengajak seisi kamar untuk berjalan-jalan ke mall dan menonton film di bioskop untuk merefreshkan pikiran.
“Eh gais nonton yuk ke mall sebelah” ucap Dika.
“Wah boleh tu, biar refresh. Daripada disini bikin darah tinggi” ucap Enop.

Seisi kamarpun setuju dengan Dika dan Enop. Kami pun langsung bergegas menuju mall tersebut. Untung saja penginapan yang kami tempati, tempatnya cukup strategis karena lokasinya berada di tengah kota dan diapit oleh mall mall besar yang bisa merefreshkan pikiran kami.

Sesampainya di bioskop gadgetku bergetar yang tandanya ada pesan masuk. Saat kubuka pesan tersebut dari Dea, sontak jantungku langsung berdegup. Tumben-tumbennya Dea mengirim pesan kepadaku. Akupun langsung membaca pesan yang dikirim oleh Dea.
“Dit kamu kemana sama yang lain?” tanya Dea.
“Nonton film di bioskop. Di Metropolitan Mall.” balasku.
“Yahh, kok ngga ajak-ajak sih 🙁 ”.
“Hmm. Yaudah malam besok yaa.”.
“Bener ya? Tapi kan kamu udah nonton”.
“Kan nonton sama kamunya belum”.
“Hmm.. Berdua nontonnya?”.
“Maunya gimana?”. Tanyaku agak ragu.
“Maunya berdua. Tapi kalo yang lain mau ikut gimana?” tanya Dea lagi.
“Yaudah ajak aja.”
“Okee Dit. Malam besok ya. Harus jadi pokoknya”.
“Iyaa iyaa” balasku dengan lega.

Degup jantungku semakin cepat. Aku masih tak percaya malam besok aku bakal mengencani Dea. Sungguh aku masih tak percaya. Aku sangat tidak sabar dengan besok malam. Bakal jadi apa jantungku ini, bakal secepat apa dia akan berdetak. Duduk sebentar dengannya saja aku sudah tidak karuan, apalagi berjalan dengannya. Bisa-bisa copot jantungku ini.

Keesokan harinya, Siangnya aku dan teman-temanku kembali mengunjungi mall yang telah kami kunjungi malam tadi. Tujuan utamaku adalah ingin melihat jadwal film yang akan tayang malam nanti. Kebetulan Aldi juga ingin nonton dengan pacarnya Nia. Setelah mengetahui jadwalnya, aku langsung mengirimkan pesan kepada Dea.
“De, filmnya ada yang jam 20.45. Mau?” tanyaku.
“Mau Dit. Udah dipesan tiketnya?”.
“Belum, nanti malam aja sekalian sama Aldi”.
“Oke dehh.”.

Malam pun tiba. Jujur aku sangat gugup untuk berkencan dengan Dea malam ini, tapi aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku ingin ini adalah malam yang indah dalam hidupku, juga dengan di hidup Dea. Aku berusaha berpenampilan sebagus mungkin agar terlihat enak di mata Dea.

Saat ingin meninggalkan kamar, gadgetku bergetar, saat kubuka ternyata Dea mengirim pesan
“Dit, aku udah di bioskop. Maaf ya baru ngabarin soalnya Tasyah, Bilah, Tere sama Syifa ngajakin pergi deluan tadi. Kamu pergi sama Aldi aja ya.” isi pesan Dea.
“Iya De. Aku ke sana ya” balasku, dan langsung bergegas menemui Aldi, dan mengajaknya pergi ke bioskop.

Sesampainya di bioskop tampak seorang wanita berjilbab biru dongker dengan kemeja garis yang sedang duduk menunggu yang tak lain adalah Dea.
“Udah lama?” tanyaku.
“Eh kamu, ngga terlalu lama sih” jawab Dea dengan senyuman khasnya.
“Aku pesan tiket dulu ya sama Aldi.” ucapku.

Setelah tiket dipesan Aku, Dea, Aldi, dan Nia langsung menuju studio dan mencari tempat duduk yang telah aku dan Aldi pesan. Aldi dan Nia langsung mengambil posisi di ujung untuk mereka berdua. Saat aku duduk jantungku mulai berdegup lagi, kali ini aku sangat gugup badanku panas dingin aku masih tak percaya dengan semua hal ini. Aku mencoba mengatur nafasku agar aku bisa tenang. Saat aku mulai tenang perlahan kuraih tangan Dea agar aku bisa menggenggam tangannya. Awalnya aku takut kalau ini akan gagal dan membuat Dea menjadi tidak nyaman. Tapi aku yakin kalau ini akan membuat Dea lebih nyaman. Saat aku berhasil menggenggam tangan Dea, aku meliriknya dan telihat jelas pipi Dea sedang merah merona seperti memakai blush on. Aku merasa senang sekali saat bisa menggenggam tangan Dea, begitupun juga Dea. Ia tampak menikmati filmnya.

Waktu telah menunjukan pukul 23.30, kamipun bergegas meninggalkan bioskop dan pulang ke penginapan karena pukul 03.00 nanti kami akan ke bandara untuk melakukan penerbangan pulang. Selama perjalanan pulang Dea dan aku masih berpegangan tangan. Dinginnya malam pun tak terasa olehku karena kehangatan yang Dea salurkan dari genggaman tangannya.

Sesampainya di pintu masuk Aldi menegurku karena masih berpegangan tangan dengan Dea.
“Ehemm, pegangan tangan terus. Ntar dilihat guru loh” Ucapp Aldi.
Sontak aku dan Dea langsung melepaskan genggaman tangan yang cukup lama ini.
“Masuk gih, jangan luppa jam 3 nanti bangun”. Ucapku sebelum meninggalkan Dea.
“Iya iya bawel. Good Night Ya” ucap Dea dengan senyuman khasnya.
“Good Night juga” balasku dengan senyum tipis.

Malam yang indah bagiku dan Dea. Aku masih tak menyangka kalau malam ini aku berhasil mengencani Dea. Aku berharap kesempatan seperti ini akan terulang di lain waktu. Akupun bisa bernafas dengan lega saat sampai di kamarku.





Tak terasa waktu telah menunjukan pukul 03.00. Terlihat dari kejauhan ada dua bus yang siap menjemput kami dari penginapan menuju bandara. Aku bergegas meletakan koperku ke bagasi bus, dan naik untuk mencari tempat duduk. Kembali kukeluarkan bunga Edelweis untuk menemaniku di setiap kesunyian datang. Bagiku Edelweis adalah bunga yang indah, bunga yang bisa memanjakan mata, dan mempunyai makna. Seperti halnya Dea. Tak lama itu pun Dea langsung duduk di sampingku. Aku mulai terbiasa dengan keberadaan Dea di dekatku, jangtungku sudah bisa beradaptasi dengan Dea. Dan mulai bisa menerima Dea.

“Ngantuk De?” tanyaku.
“Iya Dit.” ucap Dea dengan setengah sadar.
“Ya udah tidur gih” ucapku sambil meletakan kepala Dea dibahuku agar bisa sandaran.
“Ngga pegal nanti Dit?” tanya Dea
“Udah tidur aja”. Ucapku sambil mengelus kepalanya.

Pada saat di dalam pesawat Dea pun langsung tertidur. Tetapi kali ini tidak bersebelahan denganku, Dea berada di belakangku, ia duduk dengan Bilah. Sedangkan aku duduk dengan Aldi.
“Eh Dit, mana Edelweis yang dipetik di Merapi?” tanya Aldi
“Ada di ransel, di bagasi atas” ucapku.
“Wah bisa lolos juga ya di Bandara. Pakek buat nembak Dea aja, pasti diterima” ucap Aldi dengan yakin
“Masih ragu Di. Entar ditolak” ucapku penuh keraguan.
“Yak elah masih ragu. Mau sampai kapan lagi. Cinta tu harus diungkapin, bukan dipendam. Entar beliau menghilang lagi, kan kasian’ Ucap Aldi dengan yakin.
“Yaudah deh. Ntar dicoba” ucapku pesimis.
“Iyaa, jangan kelamaan aja” ucap Aldi lalu tidur.

Aku tak bisa tidur karena percakapanku dengan Aldi tadi. Kata-katanya seakan menghantui pikiranku. Aldi seakan meyakinkanku kalau Dea telah jatuh hati denganku. Benar kata Aldi aku udah pernah kehilangan Dea, dan masa aku harus kehilangan Dea untuk kedua kalinya.

Mungkin ini sudah waktunya pikirku untuk menyatakan rasa yang kupendam selama ini dengan Dea, aku tak mau buang-buang waktu lagi. Kulangkahkan kakiku secepat kilat sambil menyeret koper dan mencari Dea. Aku khawatir kalau Dea sudah pulang deluan. Dan ini akan gagal. Tapi mataku tertuju pada seorang wanita di dekat trotoar yang sedang menunggu jemputan yang tak lain adalah Dea. Aku pun langsung bergegas menemuinya.

“De, boleh ngomong sebentar?” tanyaku.
“Hmm.. Boleh Dit” jawab Dea dengan senyuman khasnya.
Aku pun berlutut dihadapan Dea sambil mengeluarkan bunga Edelweis yang kupetik di Merapi dan berkata “De kata orang bunga Edelweis adalah bunga yang abadi”
“Maksudnya?” dea memotong perkataanku.
“Mau ngga jadi setangkai bunga edelweis di hidupku?” tanyaku memelas.
“Hmm. Dit. Jangankan setangkai. Satu tanaman pun aku mau”. Ucap Dea
“Jadi kamu mau?” Tanyaku dengan bingung
Dea pun langsung mengambil bunga yang ada di tanganku, menegakkan badanku, dan langsung memeluk erat tubuhku sambil berkata “Iya Dit, aku mau”

Badanku seketika kaku mendengar jawaban dari Dea, aku tak tau harus berkata apalagi. Yang kurasakan hanyalah kesenangan yang tak tertandingi. Aku sangat senang, senang sekali. Ibarat pendaki gunung yang menemukan taman yang isinya penuh dengan bunga Edelweis. Itulah yang aku rasakan saat ini. Sekarang aku percaya, bahwa cinta itu butuh perjuangan, butuh pengorbanan. Karena cinta yang sesungguhnya, butuh perjuangan. Bagiku Dea adalah setangkai Edelweis yang tumbuh di puncak tertinggi di dunia ini, dan apabila ingin memetiknya engkau harus berjuang dan berkorban

Click to comment