Waktu Hari Minggu


Bangun tidur saya terus mandi. Habis mandi, saya tidur lagi. Ibu tiba marah-marah dan menyuruhku merapikan tempat tidurku.

Ini hari minggu. Selesai merapikan loka tidur, saya pergi ke kota, naik delman istimewa. Tiba-tiba pada tengah perjalanan kudanya kelenger, mungkin belum sarapan. Terpaksa saya turun dan memanggil tukang becak, kereta tidak berkuda. Tapi tukang becaknya memang mirip kuda.

“Becak..! Becak..! Tolong bawa saya”



Becak datang. Aku naik dan melanjutkan bepergian.

Tiga jam, aku  nyampe kota. Eh tukang becaknya jua kelenger, mungkin lantaran kejauhan. Tanpa peduli aku  eksklusif lari masuk perumahan. Aku teringat kuda pingsan, jadi kepikiran berdasarkan pagi aku  belum sarapan. Lantas kuputuskan untuk mendatangi tempat tinggal   makan. Masuk, duduk & tanya seseorang pelayan…

“Kamu, makannya apa?”
“Tempe!”
“Saya juru masaknya”
“Gak nanya!” Sewotku.

Selesai makan, saya lanjut perjalanan. Oiya, tujuanku ke kota ini adalah buat bertemu sahabat. Tapi bingung alamatnya. Maka aku  tanya siapa aja yang kutemui pada sana. Kebetulan ada tukang bakso. Aku memanggilnya.

“Abang tukang bakso!”
Tukang bakso menoleh.

“Mari ayo sini!”
Lalu beliau menghampiri.

“Aku, mau tanya”
Tukang bakso mengkerut. Kepalanya botak seperti bulat baso yang bertumpuk di gerobaknya. Hanya saja beliau terdapat mulut, & dari mulutnya itulah keluar suara gerutu.
“Kirain mau beli, Dek”

Aku tersenyum, lalu langsung mempertanyakan sebuah alamat padanya. Mana di mana, tempat tinggal   sahabat saya? Rumah sahabat kamu, di bawah pohon waru.

Ah, tukang bakso yang baik hati. Ternyata beliau sahih. Aku sudah hingga di pohon waru, & pada sanalah terdapat rumah temanku. Namanya, Parman. Tak kusangka, ternyata Parman memiara burung kakatua, dan sedang bertengger di dahan pohon. Sementara Parman kulihat sedang hinggap pada ventilasi.

“Hey, Dit!” Songsong Parman.
“Hay, Man” saya melambai.
Aku masuk tanpa dipersilahkan, lalu duduk tanpa ditawari. Aku haus, pengen minum tapi gak disuguhi apa-apa. Nelen ludah tapi kering cita rasanya. Parman malah ngajak basa-basi.

“Susah gak nyari alamatnya?”
“Susah, hauuss banget”
Aku mau bilang ‘jauh banget’, tapi lidahku keserimpet. Mungkin akibat kehilangan cairan tubuh yg mengakibatkan kepalaku tidak seimbang. Gagal fokus. Si Parman sudah terlambat menyadari berdasarkan tersebut.

“Ooh, iyaa,” Parman tepuk jidat “mau minum apa? Sori, lupa”
“Air aja”
“Iya, air apa?”
“Apa aja” jawabku acuh.



Parman pun ke dapur. 120 mnt kemudian dia kembali, menghidangkan minuman es juz ke hadapanku. Wah!
“Jus apa, Man?”
“Jussss ketela”
“Singkong?”
“Iyaaaaa”

Kedengarannya aneh. Jangan-jangan cita rasanya jua ajaib. Tapi bodo amat, aku  sangat kehausan. Kuhabiskan juga juz itu tanpa jeda. Benar-benar nir enak, Parman! Gertak batinku.

“Enak ya?”
“Lumayan”
“Aku ambil singkongnya pribadi menurut kebun sendiri, lho. Kamu, mau lihat kebunku?”
“Penuh dengan bunga?”
“Iya”
“Enggak, ah”
“Lho kenapa?”
“Dari awal aku  sudah bernarasi dengan poly lagu anak-anak. Bosen. Sekarang aku  pulang aja. Udah sore. Kambing-kambingku belum dikasih makan. Kasian, nanti kelaparan”

Aku pamit dalam Parman. Dan Parman mengucapkan hati-hati di jalan. Kususuri jalanan dengan 1/2 berlari, mengingat hari hampir malam. Keluar dari gang, kutemui lagi tukang becak yang membawaku tersebut siang. Rupanya dia sudah siuman.

“Mang, anterin pulang!”
Dia menoleh, sehabis melihat wajahku dia langsung balik  kelenger. Aku menggaruk galau.

Click to comment